Working Time: 6.45 - 16.45
MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan sistem full day school yang didukung oleh penerapan kurikulum mandiri melalui pengintegrasian Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional terbaru dengan nilai-nilai keislaman, serta diperkaya melalui adopsi dan adaptasi kurikulum Cambridge untuk memperkuat kompetensi global peserta didik.
Kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo disusun berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, sistem pendidikan yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana yang dimaksud dengan Pendidikan Nasional adalah “Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”, dan tujuan Sistem Pendidikan Nasional adalah “untuk mewujudkan dimensi profil lulusan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dalam mewujudkan tujuan tersebut maka disusun seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu atau dapat juga disebut sebagai kurikulum. Kurikulum yang dikembangkan disesuaikan dengan kondisi madrasah, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
Hal-hal pokok yang menjadi fokus dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo adalah:
Upaya sistematis untuk memperbaiki dan menyempurnakan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengawasan kurikulum agar lebih efektif, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik serta perkembangan zaman dilaksanakan untuk Penguatan Tata Kelola Kurikulum:
Kurikulum Madrasah disusun oleh Satuan Pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di madrasah. Madrasah sebagai unit penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan diantaranya adalah; perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang memungkinkan sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas sektor serta tempat, era informasi, pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral manusia, dan berubahnya kesadaran masyarakat serta orang tua terhadap pendidikan
CAMBRIDGE PROGRAM
Peningkatan mutu dan daya saing pendidikan Islam sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan salah satu pilar penting dari kebijakan pembangunan pendidikan sebagaimana tercantum dalam rencana strategis pembangunan pendidikan Islam. Dalam upaya peningkatan mutu tersebut MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo membuat inovasi untuk menjadikan madrasah sebagai satuan pendidikan Islam diatas Standar Nasional Pendidikan. Untuk mengimplementasikan hal tersebut madrasah mengembangkan kurikulum muatan lokal dan melakukan adopsi dan adaptif kurikulum Internasional Cambridge, sehingga muatan kurikulum di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo terintegrasi dengan kurikulum Internasional.
Cambridge Assessment International Education sebagai salah satu acuan kurikulum standar Internasional saat ini, banyak melakukan kemitraan dengan sejumlah sekolah di Indonesia. Tidak kurang dari 147 sekolah di tahun 2016 ini telah melakukan Memo of Agreement dengan Cambridge Assessment International Education. Data tahun 2010 di seluruh dunia, kurikulum basis CIE diikuti sekitar 160 negara. University of Cambridge Assessment yaitu lembaga penilaian di Eropa yang merupakan departemen dari University of Cambridge-England. Didirikan tahun 1858 sebagai University of Cambridge Local Examinations Syndicate. Cambridge Assessment International Education digunakan sejak tahun 1998 sebagai lembaga penyelenggaraan pendidikan dan ujian Internasional, seperti International Baccalaureate (IB) yang didirikan tahun 1968 di Swiss diikuti 138 negara. Edexcel dari Pearson company dari University of London Examinations & Assessment Council (ULEAC) University of London & Business & Technology Education Council yang diikuti 85 negara dan ICAS dari University of New South Wales, Sydney yang diikuti oleh 20 negara.
Cambridge Assessment International Education sebagai acuan kurikulum standar internasional, mengembangkan Cambridge International Primary Program (CIPP), yakni kerangka kerja dan ujian kualifikasi Internasional sekolah dasar.
Pengembangan kurikulum dilakukan oleh praktisi pendidikan dan berdasar atas praktek penilaian yang bersifat Internasional sehingga pengembangan kurikulum bercirikan, 1) adanya jaminan kualitas dan koherensi kurikulum, 2) jaminan akan standar penilaian dilakukan oleh sumber daya berkualitas tinggi, 3) diikuti pelatihan dan pengembangan profesional, 4) berpandangan Internasional dan berkomitmen yang tinggi di bidang pendidikan, 5) melalui pendekatan kemitraan dengan sekolah di seluruh dunia, atas dasar semua yang telah diuraikan tersebut, maka kurikulum CIPPT sangat populer sebagai acuan standar International pendidikan Sekolah dasar di Indonesia.
Terdapat tiga mata pelajaran untuk jenjang sekolah dasar yang wajib di implementasikan dalam kurikulum Cambridge diantaranya Matematika, Science dan Bahasa Inggris. Ketiga mata pelajaran tersebut di adopsi dan adaptifkan dengan kurikulum Nasional. Kompetensi dasar yang memiliki kesamaan dengan kurikulum Cambridge akan di adaptifkan, sedangkan yang belum ada akan di adopsi dari kurikulum Cambridge sehingga tingkat kedalaman materi di atas rata-rata madrasah pada umumnya.
TENTANG BE SMART
A. Intelligence Quotient / IQ
Berdasarkan teori kognitif sains, taraf Intelligence Quotient seorang anak itu masih bisa tumbuh dan berkembang. Kewajiban satuan pendidikan itu adalah bagaimana masa pertumbuhan IQ murid bisa dioptimalkan melalui proses latihan demi latihan. MI Muslimat NU Pucang berupaya untuk melatih murid dengan menambah proporsi jam belajar di luar struktur kurikulum yang ditargetkan oleh pemerintah. Mata pelajaran Mathematics, Science, dan English diberikan hampir setiap hari dengan pola pembelajaran Project Based Learning (PBL). Problem Based Learning ditekankan pada implementasi taraf kognitif Taksonomi Bloom C6 dan Taksonomi SOLO level relationship dan extended abstract dengan pembiasaan pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah melalui proses analisis yang kuat dengan didukung oleh pembelajaran bermakna, maka taraf IQ murid akan bisa tumbuh secara signifikan.
B. Emotional Quotient / EQ
Kecerdasan emosi dasarnya adalah nafsu. Di dalam tubuh manusia terdapat 7 sentral tempat yang paling disukai oleh syetan. Jika ke-7 tempat tersebut dikuasai oleh syetan yang disebut dengan Lathaaif, maka seseorang itu akan mudah marah dan mudah emosi. Agar ke-7 tempat tersebut tidak dikuasai oleh syetan, maka murid harus dilatih dan dibiasakan dengan:
C. Spiritual Quotient / SQ
Salah satu upaya madrasah untuk mencerdaskan SQ murid adalah dengan mendalami maksud dan makna bacaan-bacaan shalat, latihan dzikir tanafus dengan melipat lidah ke langit-langit yang memiliki tujuan :
ujung lidah dan langit-langit itu terdapat saraf-saraf tertentu. Ketika ujung lidah dan langit-langit itu saling menempel maka ada energi yang muncul dari energi yang berada di kepala turun ke dada atau hati, sehingga muncul rasa untuk menghubungkan antara energi akal dan energi hati agar bisa selaras.
SMART LEARNING
Smart learning mengharuskan guru untuk menguasai pengetahuan yang komprehensif terutama pembelajaran mendalam, bermakna, dan menyenangkan serta pembelajaran yang memiliki dasar hukum ilmiah atau berdasarkan Al Quran dan Hadits.
Smart learning mengharuskan guru untuk dapat mengelola kelas dan mampu membuat pembelajaran digital yang interaktif.
Smart learning mengharuskan guru melalukan assessment dan analisis untuk melakukan tindak lanjut.
Smart learning mengharuskan guru untuk cekatan dalam menuntaskan murid yang mengalami kesulitan dan hambatan belajar.
SMART CURRICULUM
Pembelajaran terarah, terukur, dan relevan dengan kebutuhan belajar murid serta tuntutan zaman yang terimplementasi dalam Mathematic Holistic, Assessment Holistic, evaluasi, dan pengembangan bahan ajar. Pengelolaan kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dilakukan dengan penguatan tata kelola sebagai berikut:
Muatan kurikulum dalam satuan pendidikan memuat beberapa komponen antara lain muatan pembelajaran intrakurikuler, project penguatan Dimensi Profil Lulusan dan Rahmatan lil Alamin, dan ekstrakurikuler. Namun dalam implementasinya di madrasah, pembelajaran intrakurikuler dan pembelajaran berbasis project dapat dilaksanakan sebagai satu kesatuan, bahkan memungkinkan diselenggarakan lintas mata pelajaran pada jenjang Madrasah Ibtida’iyah.
PENDEKATAN MENDALAM (DEEP LEARNING)
Pembelajaran Mendalam (PM) dalam kerangka kerja PM didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Kerangka kerja PM terdiri atas empat komponen, yaitu (1) dimensi profil lulusan, (2) prinsip pembelajaran, (3) pengalaman belajar, dan (4) kerangka pembelajaran. Pembelajaran Mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi Profil Lulusan yaitu;
Dimensi profil lulusan merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. Kerangka PM dapat digambarkan sebagai berikut;
Delapan dimensi profil lulusan peserta didik Indonesia tersebut tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kerangka PM di bawah ini menjadi acuan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan peserta didik Indonesia, yaitu melalui prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Prinsip tersebut diwujudkan melalui pengalaman belajar peserta didik yaitu Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi. Penerapan pendekatan PM didukung dengan praktik pedagogis progresif oleh guru, lingkungan belajar yang memberikan keamanan dan kenyamanan kepada peserta didik, pemanfaatan digitalisasi, serta adanya kemitraan pembelajaran yang optimal.
1. Prinsip Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran Mendalam selalu dikaitkan dengan pemahaman dan aplikasi pengetahuan dalam berbagai konteks. Terkait dengan hal ini, seperti telah disebut sebelumnya, PM menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Masing-masing berkontribusi dalam memberikan pengalaman belajar yang komprehensif dan mendalam.
Berkesadaran
Prinsip berkesadaran telah diperkenalkan oleh Ellen Langer pada tahun 1997. Pembelajaran tidak hanya melibatkan pemahaman informasi, tetapi juga bagaimana individu terlibat sepenuhnya secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran, membuka diri terhadap pengalaman baru, dan berpikir dengan cara yang lebih terbuka dan fleksibel. Prinsip berkesadaran ini relevan dengan PM sebagai pemikiran yang berkelanjutan sebagai pendekatan holistik untuk mengaitkan konten pembelajaran dengan intelektual, emosi dan nilai-nilai (Hermes & Rimanoczy, 2018). Pembelajaran mendalam memberikan peluang
Bermakna
Pembelajaran bermakna telah diperkenalkan oleh David Ausubel pada tahun 1963. Pembelajaran bermakna akan lebih efektif jika informasi baru yang dipelajari dapat dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman yang sebelumnya sudah dimiliki oleh siswa. Prinsip ini relevan dengan PM sebagai cara untuk memahami makna, sehingga meningkatkan efisiensi dan retensi jangka panjang (Kovač et al., 2023). Pembelajaran bermakna terjadi ketika peserta didik dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuannya yang akhirnya membentuk pemahaman yang mendalam pada sebuah konsep. Fullan et al. (2018) mengaitkan pembelajaran dengan pembelajaran bermakna pada konteks relevansi aktivitas pembelajaran dengan dunia nyata, mengaitkan kontribusi pengetahuan peserta didik pada berbagai konteks (lokal, nasional, regional, dan global), dan pemanfaatan lingkungan sekitar untuk pembelajaran
Menggembirakan
Ahli-ahli pendidikan seperti John Dewey (1936) dan Howard Gardner (1983) menekankan bahwa pembelajaran relevan dengan kehidupan nyata individu dan mengutamakan pembelajaran yang aktif serta pengalaman langsung baik secara emosional maupun intelektual. Michael Fullan dalam berbagai tulisannya (2014 dan 2018) tentang PM menyatakan pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendalam, bermakna, dan menggembirakan, sehingga peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran yang mendalam.
2. Pengalaman Belajar Pada Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran Mendalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dengan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pengalaman belajar yang diciptakan proses yang dialami individu dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, atau nilai. Pengalaman ini terjadi di berbagai lingkungan, seperti di sekolah, tempat kerja, rumah, atau dalam kehidupan sehari-hari, dan melibatkan interaksi dengan materi pelajaran, guru, teman sejawat, atau lingkungan. Pengalaman belajar merupakan aktivitas yang diberikan guru dalam PM yang berkaitan dengan taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) (Biggs & Collis, 1982) dan taksonomi Bloom (Anderson & Krathwohl, 2001). Pengalaman belajar PM diciptakan melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi yang digambarkan dan diuraikan sebagai berikut.
a. Memahami
Mengetahui dalam pendekatan PM adalah fase awal pembelajaran yang bertujuan membangun kesadaran peserta didik terhadap tujuan pembelajaran, mendorong peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar peserta didik dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Jenis pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial, pengetahuan aplikatif, dan pengetahuan nilai dan karakter. Guru memberikan pengetahuan yang esensial dan diaplikasikan dalam berbagai konteks, dengan mengintegrasikan dengan nilai dan karakter.
b. Mengaplikasi
Mengaplikasi merupakan pengalaman belajar yang menunjukkan aktivitas peserta didik mengaplikasikan pengetahuan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik pada tahapan memahami diaplikasikan sebagai proses perluasan pengetahuan. Tahapan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan baik secara individu maupun kolaboratif.
c. Merefleksi
Merefleksi merupakan proses saat peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Refleksi ini bertujuan untuk memahami sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai, serta mengeksplorasi kekuatan, tantangan, dan area yang perlu diperbaiki. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.
INSERSI KARAKTER KURIKULUM BERBASIS CINTA
Kurikulum Berbasis Cinta dapat disimpulkan sebagai sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan. Melalui Kurikulum ini diharapkan melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.
Prinsip dan Nilai dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta
Kurikulum Berbasis Cinta yang berorientasi melahirkan insan humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta membutuhkan landasan prinsip dan nilai yang kuat dalam proses pengembangannya.
1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta
Pendidikan Berbasis Nilai.
Kurikulum Berbasis Cinta harus mengintegrasikan nilai-nilai moral dan sosial ke dalam setiap aspeknya. Ini termasuk pendidikan tentang cinta kepada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Pengembangan Karakter.
Fokus pada pengembangan karakter peserta didik dengan memperkuat sifat-sifat seperti empati, toleransi, dan rasa hormat. Ini dapat dilakukan melalui kegiatan dan pengalaman yang memperkuat hubungan antarpeserta didik
Pendekatan Holistik.
Mengembangkan kurikulum dengan mempertimbangkan semua aspek perkembangan peserta didik yang meliputi kognitif, emosional, sosial, dan fisik. Pembelajaran tidak hanya harus menjangkau aspek akademis tetapi juga kesejahteraan emosional dan sosial.
Keterlibatan Komunitas.
Mengajak orang tua dan masyarakat untuk terlibat dalam proses pendidikan. Kolaborasi dengan komunitas dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan nilai-nilai cinta dan kebaikan.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman.
Mengutamakan pembelajaran yang bersifat praktis dan berbasis pengalaman. Kegiatan seperti proyek sosial, pengabdian masyarakat, dan pengalaman kolaboratif akan memperkuat pemahaman peserta didik tentang cinta dalam aksi.
Dialog dan Komunikasi Terbuka.
Mendorong dialog terbuka antara guru dan peserta didik serta antarpeserta didik sendiri. Ini membantu menciptakan atmosfer saling percaya dan pengertian.
Kreativitas dan Inovasi.
Mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memahami cinta dan hubungan manusia, termasuk dalam menciptakan solusi untuk masalah sosial.
Evaluasi Berbasis Proses.
Menggunakan metode evaluasi yang tidak hanya fokus pada hasil akademis, tetapi juga pada perkembangan karakter dan penerapan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
2. Nilai Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta
Nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta antara lain sebagai berikut.
Empati.
Kemampuan mengerti dan memahami perasaan orang lain, kemampuan menolong atau membantu orang lain, dan kemampuan mengajak atau membangkitkan kebahagiaan dalam diri orang lain.
Kasih Sayang.
Melibatkan perilaku yang peduli dan menghargai, melindungi dan mengayomi orang lain, dan memberi contoh dan motivasi secara konstan.
Toleransi.
Menerima dan memahami perbedaan pendapat, kepercayaan, dan identitas; menghindari perbuatan yang dapat menyebabkan kekerasan atau diskriminasi; dan mengajarkan peserta didik untuk bersikap ramah dan terbuka.
Keadilan dan Kesetaraan.
Melindungi hak-hak peserta didik dan mendorong kesetaraan; mengajarkan peserta didik untuk menghargai dan menghormati perbedaan; serta menghindari praktik diskriminatif dan kekerasan.
Hormat dan Kerendahan Hati.
Mengajarkan peserta didik untuk bersikap hormat dan menghormati orang lain serta mengajarkan mereka untuk memiliki kerendahan hati dan tidak sombong.
Perikemanusiaan.
Mengajarkan peserta didik untuk memiliki hati yang lembut dan empati terhadap orang lain serta mengajarkan peserta didik untuk memiliki rasa ingin tahu dan ingin membantu.
Kerja Sama dan Kolaborasi.
Mengajarkan peserta didik untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam mencapai tujuan bersama serta mengajarkan peserta didik untuk menghargai kontribusi setiap individu.
Keadilan dan Tanggung Jawab.
Mengajarkan peserta didik untuk memiliki keadilan dan tanggung jawab terhadap tindakan mereka serta mengajarkan mereka untuk memiliki rasa tanggung jawab atas kesalahan atau kekurangan.
Percaya Diri dan Kreativitas.
Mengajarkan peserta didik untuk memiliki percaya diri dan kreativitas dalam mencapai tujuan dan mengajarkan mereka untuk tidak takut untuk mencoba dan gagasan baru.
DIMENSI PROFIL LULUSAN
Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar Dan Menengah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2025 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah maka Dimensi Profil Lulusanyang menjadi fokus standar kelulusan diganti dengan Dimensi Profil Lulusan
STRUKTUR KURIKULUM
1. Pengaturan Beban Belajar
Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur (PT) dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur (KMTT) maksimal 60% dan waktu kegiatan tatap muka perminggu pada setiap mata pelajaran. Beban belajar peserta didik mengacu pada struktur kurikulum bersadarkan KMA No. 1503 Tahun 2025 sebagai penyempurnaan dari KMA No. 450 tahun 2024 tentang implementasi kurikulum pada madrasah
2. Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo disusun berdasarkan KMA No. 1503 Tahun 2025 sebagai penyempurnaan dari KMA No. 450 tahun 2024 tentang implementasi kurikulum pada madrasah dan keputusan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 032 Tahun 2024 tentang Capaian Pembelajaran Pada Jenjang Pendidikan Dasar dengan ketentuan sebagai berikut:
Mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika dan IPA merupakan mata pelajaran adopsi dan adaptif kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Struktur kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan. Struktur kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo disusun berdasarkan KMA No. 1503 Tahun 2025 sebagai penyempurnaan dari KMA No. 450 tahun 2024 tentang implementasi kurikulum pada madrasah.
3. Muatan Kurikulum
Muatan kurikulum madrasah meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu, materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. Hal-hal yang harus dimasukkan tim pengembang kurikulum madrasah dalam dokumen kurikulum madrasah dokumen 1 sebagai berikut:
a. Muatan Nasional dan Internasional
Muatan nasional dan internasional mencakup mata pelajaran dan alokasi waktu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) maupun Keputusan Menteri Agama (KMA) atau peraturan lain yang berlaku yang terintegrasi dengan kurikulum Cambridge melalui proses adopsi dan adaptif. Mata pelajaran adalah seluruh mata pelajaran yang diajarkan di madrasah dengan tetap berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam KMA No. 1503 Tahun 2025 sebagai penyempurnaan dari KMA No. 450 tahun 2024 tentang implementasi kurikulum pada madrasah.
b. Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.
ATMOSFER MADRASAH
Budaya adalah hasil cipta dan karsa manusia. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang berkarya dan mencipta. Budaya madrasah adalah hasil cipta, karsa dan rasa warga madrasah yang mengindikasikan bahwa warga madrasah melakukan kegitan belajar untuk memproduk sesuatu dengan ilmu yang dipelajari. Warga madrasah harus berkarya melalui proses belajar membuat dan mengerjakan tugas proyek yang bercirikan pelajar Pancasila. Warga madrasah harus mencipta sebuah produk melalui desain produk dan packaging. Selain itu warga madrasah harus manmpu mencipta sesuai tuntutan Taxonomi Bloom C6. Warga madrasah juga harus mampu mengerjakan karya dan cipta dengan rasa sehingga memunculkan cipta dan karya yang indah. Budaya Madrasah harus dibiasakan agar menjadi kebiasaan warga madrasah melaui:
Pembiasaan Pagi
Datang ke madrasah dalam dalam kondisi sudah mempunyai wudhu. Setelah meletakkan tas dan barang-barang di kelas langsung menuju masjid dengan kegiatan sebagai berikut:
Kelas 1 s.d. 3
Kelas 4 s.d. 6
English Competence Improvement (ECI)
Selain pembiasaan pagi, kegiatan ECI juga meliputi :
Pembiasaan shalat fardhu di madrasah dan di rumah.
Pembiasaan Sholat Tahajud
Pembiasaan Tadarrus
Pendampingan belajar
Tahfidz
Tahsin
Tugas Project berbasis PBL (Probem based Learning)
Math Day, Science Day, dan English Day
Madrasah memiliki program tiada hari tanpa mathematics, science dan English dengan kegiatan Math Day, Science Day, dan English Day untuk membantu pemantapan pelajaran Intrakulikuler mata pelajaran tersebut.
Madrasah Literasi
Dalam upaya meningkatkan budaya baca, tulis, dan berpikir kritis sejak dini, Madrasah Ibtidaiyah kami mengembangkan program unggulan "Madrasah Literasi, Cerdas, dan Berkarakter". Program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk gemar membaca, mampu menulis, dan terbiasa mengekspresikan ide serta pendapat secara santun.
Selain kegiatan tersebut, cipta dan karya peserta didik yang berupa tugas proyek harus di seminarkan dan dipamerkan di akhir semester. Madrasah melaksanakan holistic assassment berkelanjutan secara periodik untuk menghindarkan Sistem Kebut Semalam. Agenda siswa berisikan parent’s assessment, self assessment, peer assessment, dan teacher assessment yang harus dipantau walas setiap akhir pekan.
Realizing Active, Creative, and Digital Learning within the Framework of Ahlussunnah wal Jamaah.
Let's Join Us
MIMNU PUCANG - Copyright