Working Time: 6.45 - 16.45

Kurikulum Kurikulum

MI Muslimat NU Pucang

shape shape shape

MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan sistem full day school yang didukung oleh penerapan kurikulum mandiri melalui pengintegrasian Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional terbaru dengan nilai-nilai keislaman, serta diperkaya melalui adopsi dan adaptasi kurikulum Cambridge untuk memperkuat kompetensi global peserta didik.

Kurikulum MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo disusun berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, sistem pendidikan yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana yang dimaksud dengan Pendidikan Nasional adalah “Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”, dan tujuan Sistem Pendidikan Nasional adalah “untuk mewujudkan dimensi profil lulusan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dalam mewujudkan tujuan tersebut maka disusun seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu atau dapat juga disebut sebagai kurikulum. Kurikulum yang dikembangkan disesuaikan dengan kondisi madrasah, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.

HAL-HAL POKOK FOKUS PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

  • Pengembangan pelajar berdasarkan potensi diri dan minat yang dimilikinya.
  • Integrasi dan implementasi pengembangan kecakapan abad 21 (karakter, literasi, dan kompetensi) pelajar pada proses belajar mengajar.
  • Integrasi dimensi profil lulusan pada pembelajaran mendalam dan tema cinta pada kurikulum berbasis cinta.
  • Pengembangan pendidikan kecakapan hidup untuk peserta didik.
  • Integrasi dan penerapan teknologi pada proses belajar mengajar.
  • Penerapan prinsip-prinsip kebijakan pembelajaran mendalam yang sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Menengah Republik Indonesia.
  • Implementasi Sains in Al Quran dalam proses pembelajaran dengan penekanan pada taksonomi SOLO level relationship dan extended abstract.

PENGUATAN TATA KELOLA KURIKULUM

Upaya sistematis untuk memperbaiki dan menyempurnakan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengawasan kurikulum agar lebih efektif, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik serta perkembangan zaman dilaksanakan melalui:

  • Penguatan tata kerja guru lebih bersifat kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif;
  • Penguatan manajemen madrasah melalui penguatan kemampuan manajemen Kepala Madrasah sebagai pemimpin di Madrasah;
  • Penguatan tenaga kependidikan sebagai pendukung berlangsungnya proses layanan efektif madrasah;
  • Melengkapi sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran;
  • Peningkatan kompetensi Peserta Didik dilakukan dengan penyelenggaraan pembelajaran efektif dalam merdeka belajar untuk pencapaian Dimensi Profil Lulusan.

Pengembangan kurikulum Madrasah dengan memperhatikan kondisi riil MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo pada Tahun Pelajaran 2026/2027.

Kurikulum Madrasah disusun oleh Satuan Pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di madrasah. Madrasah sebagai unit penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan diantaranya adalah; perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang memungkinkan sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas sektor serta tempat, era informasi, pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral manusia, dan berubahnya kesadaran masyarakat serta orang tua terhadap pendidikan.

CAMBRIDGE PROGRAM

Peningkatan mutu dan daya saing pendidikan Islam sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan salah satu pilar penting dari kebijakan pembangunan pendidikan sebagaimana tercantum dalam rencana strategis pembangunan pendidikan Islam. Dalam upaya peningkatan mutu tersebut MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo membuat inovasi untuk menjadikan madrasah sebagai satuan pendidikan Islam diatas Standar Nasional Pendidikan. Untuk mengimplementasikan hal tersebut madrasah mengembangkan kurikulum muatan lokal dan melakukan adopsi dan adaptif kurikulum Internasional Cambridge, sehingga muatan kurikulum di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo terintegrasi dengan kurikulum Internasional.

Cambridge Assessment International Education sebagai salah satu acuan kurikulum standar Internasional saat ini, banyak melakukan kemitraan dengan sejumlah sekolah di Indonesia. Tidak kurang dari 147 sekolah di tahun 2016 ini telah melakukan Memo of Agreement dengan Cambridge Assessment International Education. Data tahun 2010 di seluruh dunia, kurikulum basis CIE diikuti sekitar 160 negara. University of Cambridge Assessment yaitu lembaga penilaian di Eropa yang merupakan departemen dari University of Cambridge-England. Didirikan tahun 1858 sebagai University of Cambridge Local Examinations Syndicate. Cambridge Assessment International Education digunakan sejak tahun 1998 sebagai lembaga penyelenggaraan pendidikan dan ujian Internasional, seperti International Baccalaureate (IB) yang didirikan tahun 1968 di Swiss diikuti 138 negara. Edexcel dari Pearson company dari University of London Examinations & Assessment Council (ULEAC) University of London & Business & Technology Education Council yang diikuti 85 negara dan ICAS dari University of New South Wales, Sydney yang diikuti oleh 20 negara.

Cambridge Assessment International Education sebagai acuan kurikulum standar internasional, mengembangkan Cambridge International Primary Program (CIPP), yakni kerangka kerja dan ujian kualifikasi Internasional sekolah dasar.

Ciri Pengembangan Kurikulum CIPP:

  1. Adanya jaminan kualitas dan koherensi kurikulum;
  2. Jaminan akan standar penilaian dilakukan oleh sumber daya berkualitas tinggi;
  3. Diikuti pelatihan dan pengembangan profesional;
  4. Berpandangan Internasional dan berkomitmen yang tinggi di bidang pendidikan;
  5. Melalui pendekatan kemitraan dengan sekolah di seluruh dunia.

Atas dasar semua yang telah diuraikan tersebut, maka kurikulum CIPP sangat populer sebagai acuan standar International pendidikan Sekolah dasar di Indonesia.

Terdapat tiga mata pelajaran untuk jenjang sekolah dasar yang wajib di implementasikan dalam kurikulum Cambridge diantaranya Matematika, Science, dan Bahasa Inggris. Ketiga mata pelajaran tersebut di adopsi dan adaptifkan dengan kurikulum Nasional. Kompetensi dasar yang memiliki kesamaan dengan kurikulum Cambridge akan di adaptifkan, sedangkan yang belum ada akan di adopsi dari kurikulum Cambridge sehingga tingkat kedalaman materi di atas rata-rata madrasah pada umumnya.

TENTANG BE SMART

A. Intelligence Quotient / IQ

Berdasarkan teori kognitif sains, taraf Intelligence Quotient seorang anak itu masih bisa tumbuh dan berkembang. Kewajiban satuan pendidikan itu adalah bagaimana masa pertumbuhan IQ murid bisa dioptimalkan melalui proses latihan demi latihan.

MI Muslimat NU Pucang berupaya untuk melatih murid dengan menambah proporsi jam belajar di luar struktur kurikulum yang ditargetkan oleh pemerintah. Mata pelajaran Mathematics, Science, dan English diberikan hampir setiap hari dengan pola pembelajaran Project Based Learning (PBL).

Problem Based Learning ditekankan pada implementasi taraf kognitif Taksonomi Bloom C6 dan Taksonomi SOLO level relationship dan extended abstract dengan pembiasaan pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah melalui proses analisis yang kuat dengan didukung oleh pembelajaran bermakna, maka taraf IQ murid akan bisa tumbuh secara signifikan.

B. Emotional Quotient / EQ

Kecerdasan emosi dasarnya adalah nafsu. Di dalam tubuh manusia terdapat 7 sentral tempat yang paling disukai oleh syetan. Jika ke-7 tempat tersebut dikuasai oleh syetan yang disebut dengan Lathaaif, maka seseorang itu akan mudah marah dan mudah emosi. Agar ke-7 tempat tersebut tidak dikuasai oleh syetan, maka murid harus dilatih dan dibiasakan dengan:

  • Memperbanyak Dzikir baik bil jahri, bit tanafus maupun bil qalbi;
  • Membiasakan untuk menjaga wudhu’, karena pada kondisi setelah wudhu’ terjadi pertukaran sirkulasi kondisi emosi dari yang panas berubah menjadi dingin.

"Alaa bizikrillahi Tathmainnul Quluub", maka wudhu’ merupakan salah satu cara untuk mendinginkan akal. Kondisi akal yang dingin akan dapat menjadikan hati turut dingin.

C. Spiritual Quotient / SQ

Salah satu upaya madrasah untuk mencerdaskan SQ murid adalah dengan mendalami maksud dan makna bacaan-bacaan shalat, latihan dzikir tanafus dengan melipat lidah ke langit-langit yang memiliki tujuan:

  • Ujung lidah dan langit-langit itu terdapat saraf-saraf tertentu. Ketika ujung lidah dan langit-langit itu saling menempel maka ada energi yang muncul dari energi yang berada di kepala turun ke dada atau hati, sehingga muncul rasa untuk menghubungkan antara energi akal dan energi hati agar bisa selaras.

SMART LEARNING

  • Smart learning mengharuskan guru untuk menguasai pengetahuan yang komprehensif terutama pembelajaran mendalam, bermakna, dan menyenangkan serta pembelajaran yang memiliki dasar hukum ilmiah atau berdasarkan Al Quran dan Hadits.
  • Smart learning mengharuskan guru untuk dapat mengelola kelas dan mampu membuat pembelajaran digital yang interaktif.
  • Smart learning mengharuskan guru melakukan assessment dan analisis untuk melakukan tindak lanjut.
  • Smart learning mengharuskan guru untuk cekatan dalam menuntaskan murid yang mengalami kesulitan dan hambatan belajar.

SMART CURRICULUM

Pembelajaran terarah, terukur, dan relevan dengan kebutuhan belajar murid serta tuntutan zaman yang terimplementasi dalam Mathematic Holistic, Assessment Holistic, evaluasi, dan pengembangan bahan ajar.

Pengelolaan Kurikulum Dilakukan Melalui:

  • Tata kerja pendidik yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang bersifat kolaboratif.
  • Penguatan manajemen madrasah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala madrasah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader).
  • Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran.
  • Penguatan materi dilakukan dengan cara pendalaman dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik.

Pelaksanaan proses pembelajaran di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dilaksanakan dalam dua macam bentuk kegiatan, yaitu pembelajaran regular dan blok. Pembelajaran regular adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas secara rutin sedangkan sistem blok dilaksanakan sesuai event atau kegiatan tertentu.

Muatan kurikulum dalam satuan pendidikan memuat beberapa komponen antara lain muatan pembelajaran intrakurikuler, project penguatan Dimensi Profil Lulusan dan Rahmatan lil Alamin, dan ekstrakurikuler. Namun dalam implementasinya di madrasah, pembelajaran intrakurikuler dan pembelajaran berbasis project dapat dilaksanakan sebagai satu kesatuan, bahkan memungkinkan diselenggarakan lintas mata pelajaran pada jenjang Madrasah Ibtida’iyah.

PENDEKATAN MENDALAM (DEEP LEARNING)

Pembelajaran Mendalam (PM) dalam kerangka kerja PM didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Kerangka kerja PM terdiri atas empat komponen, yaitu (1) dimensi profil lulusan, (2) prinsip pembelajaran, (3) pengalaman belajar, dan (4) kerangka pembelajaran.

Pembelajaran Mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi Profil Lulusan yaitu:

  • Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME
  • Kewargaan
  • Penalaran kritis
  • Kreativitas
  • Kolaborasi
  • Kemandirian
  • Kesehatan
  • Komunikasi

Dimensi profil lulusan merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. Delapan dimensi profil lulusan peserta didik Indonesia tersebut tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kerangka PM menjadi acuan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan peserta didik Indonesia melalui prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan yang diwujudkan melalui pengalaman belajar Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi.

1. Prinsip Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam selalu dikaitkan dengan pemahaman dan aplikasi pengetahuan dalam berbagai konteks dengan menerapkan prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan:

Berkesadaran (Ellen Langer, 1997):

Pembelajaran tidak hanya melibatkan pemahaman informasi, tetapi juga bagaimana individu terlibat sepenuhnya secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran, membuka diri terhadap pengalaman baru, dan berpikir dengan cara yang lebih terbuka dan fleksibel. Prinsip berkesadaran ini relevan dengan PM sebagai pemikiran yang berkelanjutan sebagai pendekatan holistik untuk mengaitkan konten pembelajaran dengan intelektual, emosi dan nilai-nilai (Hermes & Rimanoczy, 2018).

Bermakna (David Ausubel, 1963):

Pembelajaran bermakna akan lebih efektif jika informasi baru yang dipelajari dapat dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman yang sebelumnya sudah dimiliki oleh siswa. Prinsip ini relevan dengan PM sebagai cara untuk memahami makna, sehingga meningkatkan efisiensi dan retensi jangka panjang (Kovač et al., 2023). Fullan et al. (2018) mengaitkan pembelajaran bermakna pada konteks relevansi aktivitas pembelajaran dengan dunia nyata, mengaitkan kontribusi pengetahuan peserta didik pada berbagai konteks (lokal, nasional, regional, dan global), dan pemanfaatan lingkungan sekitar untuk pembelajaran.

Menggembirakan (John Dewey, Howard Gardner, Michael Fullan):

Ahli-ahli pendidikan menekankan bahwa pembelajaran relevan dengan kehidupan nyata individu dan mengutamakan pembelajaran yang aktif serta pengalaman langsung baik secara emosional maupun intelektual. Michael Fullan (2014 & 2018) menyatakan pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendalam, bermakna, dan menggembirakan.

2. Pengalaman Belajar Pada Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik melalui aktivitas yang berkaitan dengan taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) (Biggs & Collis, 1982) dan taksonomi Bloom (Anderson & Krathwohl, 2001) yang diuraikan sebagai berikut:

  1. Memahami: Fase awal pembelajaran yang bertujuan membangun kesadaran peserta didik terhadap tujuan pembelajaran, mendorong peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks (pengetahuan esensial, aplikatif, serta nilai dan karakter).
  2. Mengaplikasi: Pengalaman belajar yang menunjukkan aktivitas peserta didik mengaplikasikan pengetahuan secara kontekstual sebagai proses perluasan pengetahuan, baik secara individu maupun kolaboratif.
  3. Merefleksi: Proses saat peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan untuk memahami sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai serta mengelola proses belajarnya secara mandiri (regulasi diri).

INSERSI KARAKTER KURIKULUM BERBASIS CINTA

Kurikulum Berbasis Cinta dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.

1. Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta:

  • Pendidikan Berbasis Nilai: Mengintegrasikan nilai-nilai moral dan sosial (cinta diri, orang lain, dan lingkungan).
  • Pengembangan Karakter: Memperkuat sifat empati, toleransi, dan rasa hormat.
  • Pendekatan Holistik: Mempertimbangkan aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik.
  • Keterlibatan Komunitas: Mengajak orang tua dan masyarakat terlibat aktif.
  • Pembelajaran Berbasis Pengalaman: Mengutamakan proyek sosial dan pengabdian masyarakat.
  • Dialog dan Komunikasi Terbuka: Menciptakan atmosfer saling percaya dan pengertian.
  • Kreativitas dan Inovasi: Berpikir kreatif dalam memahami hubungan manusia dan masalah sosial.
  • Evaluasi Berbasis Proses: Fokus pada perkembangan karakter dan penerapan nilai harian.

2. Nilai Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta:

  • Empati: Mampu memahami perasaan, menolong, dan membangkitkan kebahagiaan orang lain.
  • Kasih Sayang: Perilaku peduli, menghargai, melindungi, dan memberi motivasi konstan.
  • Toleransi: Menerima perbedaan, menghindari diskriminasi, dan bersikap ramah terbuka.
  • Keadilan dan Kesetaraan: Melindungi hak-hak peserta didik dan menghargai perbedaan.
  • Hormat dan Kerendahan Hati: Bersikap hormat serta tidak sombong.
  • Perikemanusiaan: Memiliki hati yang lembut, empati, dan rasa ingin membantu.
  • Kerja Sama dan Kolaborasi: Bekerja sama mencapai tujuan dan menghargai kontribusi individu.
  • Keadilan dan Tanggung Jawab: Bertanggung jawab atas tindakan, kesalahan, atau kekurangan.
  • Percaya Diri dan Kreativitas: Tidak takut mencoba hal dan gagasan baru.

DIMENSI PROFIL LULUSAN & STRUKTUR KURIKULUM

Dengan diterbitkannya Permendikdasmen RI Nomor 10 Tahun 2025 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Menengah, maka standar kelulusan berfokus pada Dimensi Profil Lulusan.

Pengaturan Beban Belajar & Ketentuan Kurikulum:

Beban belajar peserta didik mengacu pada struktur kurikulum berdasarkan KMA No. 1503 Tahun 2025 (penyempurnaan KMA No. 450 Tahun 2024) dan Keputusan BSKAP Kemendikbudristek No. 032 Tahun 2024:

  • Alokasi waktu untuk Penugasan Terstruktur (PT) dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur (KMTT) maksimal 60% dari waktu tatap muka per minggu.
  • Perhitungan waktu dapat direncanakan secara mingguan, dua mingguan, bulanan, atau blok materi sesuai efektivitas pembelajaran.
  • Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 jenis seni atau prakarya (Seni Musik, Rupa, Teater, Tari, atau Prakarya).
  • Pengembangan muatan lokal disesuaikan dengan kekhasan madrasah dan kebutuhan daerah.
  • Madrasah berwenang melakukan penambahan/relokasi jam pelajaran dan menentukan model pembelajaran (konvensional, berbasis projek/tema, atau sistem blok).
  • Mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA merupakan mata pelajaran adopsi dan adaptif kurikulum nasional dan kurikulum internasional Cambridge.

Muatan Kurikulum:

  • a. Muatan Nasional: Mencakup mata pelajaran dan alokasi waktu yang ditetapkan Permendikbud maupun Keputusan Menteri Agama (KMA No. 1503 Tahun 2025).
  • b. Muatan Lokal: Kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi sesuai dengan ciri khas dan potensi keunggulan daerah.

EKOSISTEM MADRASAH & BUDAYA PEMBIASAAN

Budaya madrasah merupakan hasil cipta, karsa, dan rasa warga madrasah untuk memproduksi sesuatu dari ilmu yang dipelajari melalui karya tugas proyek bercirikan pelajar Pancasila, desain produk, dan packaging sesuai Taksonomi Bloom C6.

1. Pembiasaan Pagi (Kondisi Sudah Berwudhu)

Kelas 1 s.d. 3:

  • Pembacaan Asmaul Husna dan artinya
  • Murajaah surat pilihan & Berdoa
  • Pembacaan janji siswa
  • Doktrin Dimensi Profil Lulusan

Kelas 4 s.d. 6:

  • Shalat Dhuha & Berdoa
  • Pembacaan janji siswa
  • Doktrin 8 Dimensi Profil Lulusan
  • Pembacaan Asmaul Husna, Istighosah, Diba', & Tahlil (sesuai jadwal)
Hari Deskripsi Kegiatan Pembiasaan (Kelas 4 s.d. 6)
SeninAsmaul husna & Surah Al-Mulk, Istighosah 1
SelasaAsmaul husna & Surah Yasiin, Istighosah 2
RabuAsmaul husna & Surah Al-Sajdah, Istighosah 3
KamisAsmaul husna & Surah Ar-Rohman, Diba’
Jum’atAsmaul husna & Surah Al-Waqiah, Tahlil

2. English Competence Improvement (ECI)

  • Hafalan vocab dan deskripsi gambar setiap hari ketika istirahat.
  • Podcast terjadwal setiap kelas.
  • Short video sesuai topik setiap minggu.
  • Tashih (Tes kemampuan untuk naik level).
  • Gerakan komunikasi English melalui ambassador.

3. Pembiasaan Lainnya

  • Pembiasaan Shalat Fardhu: Di madrasah dan di rumah.
  • Pembiasaan Tadarrus: Dilaksanakan setelah sholat maghrib pukul 18.00 - 18.45.
  • Pembiasaan Sholat Tahajud: Wajib bagi siswa Kelas IV s.d. VI pada hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu.
  • Pendampingan Belajar.
  • Tahfidz: Setoran hafalan mingguan saat Tahfidz Review (Minimal hafal juz 30).
  • Tahsin: Menggunakan metode tahsin (6 JP per minggu) untuk memperlancar bacaan Al-Qur'an.
  • Ibadah dengan Rasa (Shalat dan Dzikir): Pelatihan shalat dan dzikir dengan rasa setiap hari Jum’at ketika pembiasaan pagi.
  • Menumbuhkan ajaran Ahlusunnah waljamaah.
  • Tugas Project berbasis PBL (Problem Based Learning): Membuat tugas penelitian sesuai dengan tema dan topik yang diberikan serta melakukan presentasi tugas penelitian yang telah dibuat.
  • Market Day, Sinkronisasi, dan Pentas Seni: Bekerja sama dengan dunia usaha dan industri untuk memasarkan suatu produk, crosscheck ubudiyah dan muamalah peserta didik dengan menghadirkan orang tua, memamerkan hasil tugas project, serta menampilkan bakat pada kegiatan pentas seni.
  • Math Day, Science Day, dan English Day: Program tiada hari tanpa mathematics, science dan English untuk membantu pemantapan pelajaran Intrakurikuler mata pelajaran tersebut.

Selain kegiatan tersebut, cipta dan karya peserta didik yang berupa tugas proyek harus diseminarkan dan dipamerkan di akhir semester. Madrasah melaksanakan assessment berkelanjutan secara periodik untuk menghindarkan Sistem Kebut Semalam. Agenda siswa berisikan parent’s assessment yang harus dipantau walas setiap akhir pekan. Untuk melancarkan proses komunikasi berbahasa Inggris akan dilakukan cross tingkat jenjang.

MADRASAH LITERASI

Dalam upaya meningkatkan budaya baca, tulis, dan berpikir kritis sejak dini, Madrasah Ibtidaiyah kami mengembangkan program unggulan "Madrasah Literasi, Cerdas, dan Berkarakter". Program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk gemar membaca, mampu menulis, dan terbiasa mengekspresikan ide serta pendapat secara santun.

Business_client
Business_client