MENGAPA KITA HARUS BERPUASA?
Kita sebagai hamba Allah memiliki
kewajiban untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam
Al-Qur’an yang artinya:
“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
Ayat
ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan kita adalah untuk beribadah. Maka
puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang menjadi sarana kita mendekatkan diri
kepada Allah, melatih ketaatan, serta membersihkan jiwa.
Anakku,
Selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh
hari kita berada di dalam rahim ibu. Di dalam rahim itu, kita makan setelah ibu
mengonsumsi makanan. Kita minum setelah ibu kita minum. Kita bergerak pun atas
izin dan kehendak Allah melalui perantara ibu kita.
Pada masa itu, hakikatnya kita telah dilatih
kesabaran dan kepasrahan total. Kita belajar “berjamaah”, dalam arti hidup
mengikuti komando dan ketetapan Allah melalui ibu kita. Kita menahan segala
hasrat, kecuali ketika ibu kita menuntaskannya. Kita tidak bisa meminta, tidak
bisa memilih, tidak bisa menentukan.
Dan yang terpenting, selama sembilan
bulan sepuluh hari itu, sesungguhnya kita benar-benar berada dalam keadaan syaum
(menahan diri).
Kita
memiliki mata, tetapi tidak dapat melihat.
Kita memiliki telinga, tetapi tidak dapat mendengar.
Kita memiliki mulut, tetapi tidak dapat berbicara.
Kita memiliki otak, tetapi belum mampu berpikir.
Kita memiliki perasaan, tetapi belum mampu mengekspresikan rasa.
Kita memiliki akal, tetapi belum mampu berdaya.
Satu-satunya
yang aktif dan hidup pada saat itu adalah ruh kita.
Ruh
adalah rahasia Allah.
Ia
tidak dapat didefinisikan secara sempurna oleh manusia. Di dalam rahim ibu,
kita tumbuh dan berkembang atas izin-Nya. Di dalam rahim itu pula, ruh kita
berada dalam keadaan suci, bersih, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Dalam
kesucian itu, seakan-akan ruh kita senantiasa berdzikir kepada-Nya.
Tidak heran jika Rasulullah menjelaskan
bahwa setiap bayi yang lahir dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Karena
sebelum mengenal dunia, ruh kita telah berada dalam keadaan berserah diri
sepenuhnya kepada Allah.
Alhamdulillah, selama sembilan bulan
sepuluh hari itu, kita seakan-akan telah ber-i‘tikaf di “madrasah kehidupan”
pertama. Hampir setiap manusia pernah mengalami peristiwa syaum yang
agung di dalam rahim ibunya.
Hakikat
Syaum
Syaum
bukan sekadar menahan lapar dan haus dari pagi hingga sore hari. Bukan pula
hanya menahan nafsu biologis. Lebih dari itu, syaum adalah menahan seluruh
anggota tubuh dan hati dari hal-hal yang dilarang Allah.
Menahan
lisan dari dusta dan ghibah.
Menahan mata dari pandangan yang haram.
Menahan telinga dari mendengar keburukan.
Menahan hati dari penyakit-penyakit seperti syirik, iri, dengki, tamak, kikir,
kufur, dan takabur.
Melatih diri untuk berpikir positif serta menghindari bisikan setan dan iblis.
Ingat
anakku, setiap hari kita membaca niat:
Nawaitu
shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta‘ala.
Namun
sering kali yang kita lakukan hanya shiyam (menahan lapar dan haus),
bukan syaum dalam makna yang utuh.
Kita
menahan haus dan lapar, iya.
Tetapi indra tidak kita jaga.
Hati tidak kita jaga.
Pikiran dan akal tidak kita jaga.
Padahal
puasa sejati adalah puasa lahir dan batin.
Ramadhan
adalah Napak Tilas Kesucian
Ayo,
Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai momentum napak tilas, mengingat kembali
masa sembilan bulan sepuluh hari saat kita berada di rahim ibu. Allah
memerintahkan puasa agar kita mampu mengembalikan kesucian ruh seperti ketika
kita pertama kali hadir ke dunia.
Anakku,
yang akan kembali ke hadirat Allah adalah ruh yang suci. Jasad kita kelak akan kembali menjadi tanah,
bahkan menjadi santapan cacing. Karena jasad kita memang diciptakan Allah dari
tanah.
Namun ruh kita ditiupkan langsung oleh Allah sebagai amanah yang mulia. Maka jangan kotori ruh kita dengan dosa dan kesombongan, agar ketika saatnya kembali, kita kembali dalam keadaan bersih.
Kesimpulannya
Berpuasa
adalah upaya mengembalikan proporsi ruh seperti ketika kita baru lahir ke alam
dunia — suci, bersih, tunduk, dan dekat kepada Allah.
Karena
itu, jangan sia-siakan waktu Ramadhan.
Jangan jadikan puasa hanya sebagai rutinitas fisik.
Jadikan ia sebagai perjalanan spiritual untuk memulihkan ruh, membersihkan
hati, dan menguatkan iman.
Semoga
kita termasuk orang-orang yang benar-benar berpuasa, bukan sekadar menahan
lapar dan dahaga.

