Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

MENGAPA KITA HARUS BERPUASA?

Kita sebagai hamba Allah memiliki kewajiban untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan kita adalah untuk beribadah. Maka puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang menjadi sarana kita mendekatkan diri kepada Allah, melatih ketaatan, serta membersihkan jiwa.

Anakku,

Selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari kita berada di dalam rahim ibu. Di dalam rahim itu, kita makan setelah ibu mengonsumsi makanan. Kita minum setelah ibu kita minum. Kita bergerak pun atas izin dan kehendak Allah melalui perantara ibu kita.

Pada masa itu, hakikatnya kita telah dilatih kesabaran dan kepasrahan total. Kita belajar “berjamaah”, dalam arti hidup mengikuti komando dan ketetapan Allah melalui ibu kita. Kita menahan segala hasrat, kecuali ketika ibu kita menuntaskannya. Kita tidak bisa meminta, tidak bisa memilih, tidak bisa menentukan.

Dan yang terpenting, selama sembilan bulan sepuluh hari itu, sesungguhnya kita benar-benar berada dalam keadaan syaum (menahan diri).

Kita memiliki mata, tetapi tidak dapat melihat.
Kita memiliki telinga, tetapi tidak dapat mendengar.
Kita memiliki mulut, tetapi tidak dapat berbicara.
Kita memiliki otak, tetapi belum mampu berpikir.
Kita memiliki perasaan, tetapi belum mampu mengekspresikan rasa.
Kita memiliki akal, tetapi belum mampu berdaya.

Satu-satunya yang aktif dan hidup pada saat itu adalah ruh kita.

Ruh adalah rahasia Allah.
              Ia tidak dapat didefinisikan secara sempurna oleh manusia. Di dalam rahim ibu, kita tumbuh dan berkembang atas izin-Nya. Di dalam rahim itu pula, ruh kita berada dalam keadaan suci, bersih, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Dalam kesucian itu, seakan-akan ruh kita senantiasa berdzikir kepada-Nya.

Tidak heran jika Rasulullah menjelaskan bahwa setiap bayi yang lahir dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Karena sebelum mengenal dunia, ruh kita telah berada dalam keadaan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Alhamdulillah, selama sembilan bulan sepuluh hari itu, kita seakan-akan telah ber-i‘tikaf di “madrasah kehidupan” pertama. Hampir setiap manusia pernah mengalami peristiwa syaum yang agung di dalam rahim ibunya.

Hakikat Syaum

Syaum bukan sekadar menahan lapar dan haus dari pagi hingga sore hari. Bukan pula hanya menahan nafsu biologis. Lebih dari itu, syaum adalah menahan seluruh anggota tubuh dan hati dari hal-hal yang dilarang Allah.

Menahan lisan dari dusta dan ghibah.
Menahan mata dari pandangan yang haram.
Menahan telinga dari mendengar keburukan.
Menahan hati dari penyakit-penyakit seperti syirik, iri, dengki, tamak, kikir, kufur, dan takabur.
Melatih diri untuk berpikir positif serta menghindari bisikan setan dan iblis.

Ingat anakku, setiap hari kita membaca niat:

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta‘ala.

Namun sering kali yang kita lakukan hanya shiyam (menahan lapar dan haus), bukan syaum dalam makna yang utuh.

Kita menahan haus dan lapar, iya.
Tetapi indra tidak kita jaga.
Hati tidak kita jaga.
Pikiran dan akal tidak kita jaga.

Padahal puasa sejati adalah puasa lahir dan batin.

Ramadhan adalah Napak Tilas Kesucian

Ayo, Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai momentum napak tilas, mengingat kembali masa sembilan bulan sepuluh hari saat kita berada di rahim ibu. Allah memerintahkan puasa agar kita mampu mengembalikan kesucian ruh seperti ketika kita pertama kali hadir ke dunia.

Anakku, yang akan kembali ke hadirat Allah adalah ruh yang suci.  Jasad kita kelak akan kembali menjadi tanah, bahkan menjadi santapan cacing. Karena jasad kita memang diciptakan Allah dari tanah.

Namun ruh kita ditiupkan langsung oleh Allah sebagai amanah yang mulia. Maka jangan kotori ruh kita dengan dosa dan kesombongan, agar ketika saatnya kembali, kita kembali dalam keadaan bersih.

Kesimpulannya

Berpuasa adalah upaya mengembalikan proporsi ruh seperti ketika kita baru lahir ke alam dunia — suci, bersih, tunduk, dan dekat kepada Allah.

Karena itu, jangan sia-siakan waktu Ramadhan.
Jangan jadikan puasa hanya sebagai rutinitas fisik.
Jadikan ia sebagai perjalanan spiritual untuk memulihkan ruh, membersihkan hati, dan menguatkan iman.

Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar berpuasa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. 

Back
Search Hear
Recent Posts
logo_madrasah
Need Help? We Are Here To Help You
Contact Us