Lebaran di Ujung Cermin (By Boediono, S.Pd, M.Pd.I)
Pagi itu, gema takbir berkumandang dari masjid kampung.
Suaranya bersahut-sahutan, menyentuh langit yang masih berwarna jingga. Fikri
berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya dengan baju koko putih yang
baru disetrika. “Sudah siap, Nak?” tanya Ayah dari ruang tamu. “Sebentar lagi,
Yah,” jawab Fikri pelan. Namun sebenarnya, yang belum siap bukanlah pakaiannya,
melainkan hatinya. Selama bulan Ramadan, Fikri merasa sudah berusaha menjadi
lebih baik. Ia berpuasa penuh, rajin salat tarawih, dan membaca Al-Qur’an.
Tetapi di sudut hatinya, masih ada ganjalan. Ia teringat pertengkarannya dengan
sahabatnya, Raka, dua minggu lalu. Hanya karena permainan bola, mereka saling
mengejek hingga tak lagi saling menyapa.
Di hari kemenangan ini, Fikri sadar bahwa Lebaran bukan
sekadar tentang baju baru dan hidangan lezat. Ia teringat pesan ustaz di
masjid, bahwa Idulfitri adalah hari kembali pada kesucian hati. Seusai salat
Id, Fikri bersalaman dengan Ayah dan Ibu. “Maafkan Fikri ya, Yah, Bu, kalau
selama ini banyak salah.” Ibu tersenyum haru. “Ibu juga minta maaf, Nak. Semoga
kita jadi pribadi yang lebih baik.” Dalam perjalanan pulang, Fikri melihat Raka
berdiri di depan rumahnya. Hatinya berdebar. Ia bisa saja berpura-pura tidak
melihat, tetapi hari ini terasa berbeda. Lebaran adalah tentang keberanian
memperbaiki diri. Fikri melangkah mendekat. “Rak…” ucapnya pelan. “Maaf ya,
waktu itu aku keterlaluan.” Raka terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Aku juga
salah, Fik. Maafin aku juga.” Mereka pun berjabat tangan erat. Rasanya seperti
beban berat yang terangkat dari dada.
Siang itu, suasana kampung dipenuhi tawa dan aroma
ketupat. Namun bagi Fikri, kebahagiaan terbesar bukanlah pada hidangan atau
angpao yang diterimanya. Kebahagiaan itu hadir saat ia mampu mengalahkan
egonya. Ia menyadari bahwa Lebaran adalah cermin. Cermin yang memantulkan siapa
dirinya sebelum dan sesudah Ramadan. Apakah ia hanya berubah selama sebulan,
ataukah perubahan itu akan terus dijaga?
Sore hari, Fikri duduk di teras rumah sambil memandang
langit yang mulai redup. Dalam hati ia berjanji, kebaikan yang telah ia latih
selama Ramadan tidak akan berhenti hari ini. Ia ingin menjaga lisannya,
menghormati orang tua, menyayangi teman, dan menolong siapa pun yang membutuhkan.
Karena Lebaran sejatinya bukan akhir perjalanan,
melainkan awal dari perbaikan akhlak yang sesungguhnya. Dan di ujung cermin
itu, Fikri tersenyum, bukan karena bajunya baru, tetapi karena hatinya terasa
lebih bersih dari kemarin.

