Hadiah Terindah di Hari yang Fitrah
By Faristya Putri Alviana Zahroh, S.Pd
Takbir berkumandang dari masjid kecil
di ujung kampung. Suaranya mengalun lembut menembus langit malam, menyusup ke
dalam hati siapa saja yang mendengarnya. “Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Rena
memeluk lututnya di dekat jendela. Cahaya bulan memantul di pipinya yang basah
oleh air mata. Malam itu adalah malam Hari Raya Idul fitri. Semua orang
menyambutnya dengan suka cita. Namun, hati Rena terasa kosong. Sudah beberapa
tahun dia dan keluarganya melewati lebaran tanpa ayahnya.
Sejak ayahnya meninggal beberapa
tahun silam, kakak laki-lakinya menggantikan peran ayahnya sebagai tulang
punggung keluarga. Ibunya mempunyai usaha kecil-kecilan berjualan di depan
rumah yang terkadang hanya cukup untuk kebutuhan makan. Setiap hari dia
menunggu kakaknya memberi uang untuk membeli baju baru untuk lebaran bersama ibunya,
tapi belum ada tanda-tanda kakaknya datang hingga malam takbiran tiba. “Lebaran
tidak harus baju baru, baju yang kemarin juga masih bagus, ibu sudah
menyeterikanya.” Ibu menasehati Rena sambil tersenyum. Tapi bagi Rena, bukan
tentang baju baru yang dia pikiran, tapi suasana berkumpul dengan keluarga yang
dia rindukan. Rena mengangguk diam.
Di ruang tengah, Ibu sedang melipat
mukena putih yang baru dicuci. Wajahnya lelah, tapi tetap tersenyum. “Rena,
besok kita salat Id bersama ya. Jangan menangis lagi. Hari raya itu hari
kembali suci,” ucap Ibu lembut. “Kembali suci… tapi kenapa hati Rena terasa
berat, Bu?” bisik Rena. Ibu mendekat, memeluk Rena erat. “Karena memaafkan dan
menerima keadaan itu tidak selalu mudah. Tapi di situlah makna kembali ke
fitrah. Kita belajar membersihkan hati.”. Setelah bersih-bersih dan merapikan
rumah ibu mengajaknya tidur agar bisa bangun pagi untuk mengikuti sholat Id di
pagi hari raya.
Pagi pun tiba. Takbir masih
bersahutan dari pengeras suara masjid. Rena dan ibunya mengenakan baju putih
sederhana yang disiapkan Ibunya. Mereka berjalan bersama menuju masjid tempat
salat Id dilaksanakan. Langit biru cerah seakan ikut merayakan hari kemenangan
itu. Setelah shalat, orang-orang saling bersalaman. “Mohon maaf lahir dan
batin,” terdengar di mana-mana. Rena menunduk saat bersalaman dengan Ibu. “Maafkan
Rena ya, Bu, kalau selama ini sering mengeluh dan marah,” ucapnya lirih. Ibu
tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Ibu juga minta maaf.” Mereka berdua
berjalan bersama ke rumah, Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara yang sangat
dia kenal “Ibu..Rena..!” Ia menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang. Seorang
pria turun dari gojek menghampiri dia dan ibunya. Wajahnya sedikit lebih kurus,
tapi senyumnya mengembang tulus. “Abang…” suara Rena bergetar. Tanpa berpikir
panjang, ia berlari sekuat tenaga. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini
bukan karena sedih. Ia memeluk kakaknya erat-erat, seakan momen itu sangat
berharga baginya.
“Maafkan abang ya dek karena baru
datang, ini baju baru buat Rena,” bisik abang dengan suara parau. Setelah itu
kakaknya mengahampiri ibunya, kemudian mencium tangan ibunya dengan takzim, Air
matanya mengalir deras, “Ibu, abang mohon maaf lahir dan batin, belum bisa
menjadi anak yang membanggakan”. Ibunya pun ikut meneteskan air mata, senyumnya
menenangkan “Abang, ibu bangga mempunyai anak seperti abang, ibu minta maaf dan
juga terima kasih karena abang sudah bekerja keras menggantikan ayah untuk
keluarga kita”. Di bawah langit yang
cerah, di antara gema takbir yang belum sepenuhnya usai, Rena merasakan sesuatu
yang hangat memenuhi dadanya. Bukan hanya karena baju barunya dan abangnya
telah pulang, tetapi karena ia mengerti
makna sebenarnya dari hari itu.
Kembali ke fitrah bukan sekadar
mengenakan baju baru atau menikmati hidangan lezat. Kembali ke fitrah adalah
saat hati dibersihkan dari kecewa, saat maaf diucapkan dengan tulus, dan saat
kasih sayang menjadi lebih penting daripada ego. Rena tersenyum sambil
menggenggam tangan Ibu dan abangnya. Hari itu, ia benar-benar merasa lega.
Bukan hanya keluarganya yang berkumpul, tetapi hatinya juga kembali ke fitrah.
Back

