Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

Hadiah Terindah di Hari yang Fitrah

By Faristya Putri Alviana Zahroh, S.Pd

Takbir berkumandang dari masjid kecil di ujung kampung. Suaranya mengalun lembut menembus langit malam, menyusup ke dalam hati siapa saja yang mendengarnya. “Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Rena memeluk lututnya di dekat jendela. Cahaya bulan memantul di pipinya yang basah oleh air mata. Malam itu adalah malam Hari Raya Idul fitri. Semua orang menyambutnya dengan suka cita. Namun, hati Rena terasa kosong. Sudah beberapa tahun dia dan keluarganya melewati lebaran tanpa ayahnya.

Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun silam, kakak laki-lakinya menggantikan peran ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Ibunya mempunyai usaha kecil-kecilan berjualan di depan rumah yang terkadang hanya cukup untuk kebutuhan makan. Setiap hari dia menunggu kakaknya memberi uang untuk membeli baju baru untuk lebaran bersama ibunya, tapi belum ada tanda-tanda kakaknya datang hingga malam takbiran tiba. “Lebaran tidak harus baju baru, baju yang kemarin juga masih bagus, ibu sudah menyeterikanya.” Ibu menasehati Rena sambil tersenyum. Tapi bagi Rena, bukan tentang baju baru yang dia pikiran, tapi suasana berkumpul dengan keluarga yang dia rindukan. Rena mengangguk diam.

Di ruang tengah, Ibu sedang melipat mukena putih yang baru dicuci. Wajahnya lelah, tapi tetap tersenyum. “Rena, besok kita salat Id bersama ya. Jangan menangis lagi. Hari raya itu hari kembali suci,” ucap Ibu lembut. “Kembali suci… tapi kenapa hati Rena terasa berat, Bu?” bisik Rena. Ibu mendekat, memeluk Rena erat. “Karena memaafkan dan menerima keadaan itu tidak selalu mudah. Tapi di situlah makna kembali ke fitrah. Kita belajar membersihkan hati.”. Setelah bersih-bersih dan merapikan rumah ibu mengajaknya tidur agar bisa bangun pagi untuk mengikuti sholat Id di pagi hari raya.

Pagi pun tiba. Takbir masih bersahutan dari pengeras suara masjid. Rena dan ibunya mengenakan baju putih sederhana yang disiapkan Ibunya. Mereka berjalan bersama menuju masjid tempat salat Id dilaksanakan. Langit biru cerah seakan ikut merayakan hari kemenangan itu. Setelah shalat, orang-orang saling bersalaman. “Mohon maaf lahir dan batin,” terdengar di mana-mana. Rena menunduk saat bersalaman dengan Ibu. “Maafkan Rena ya, Bu, kalau selama ini sering mengeluh dan marah,” ucapnya lirih. Ibu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Ibu juga minta maaf.” Mereka berdua berjalan bersama ke rumah, Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara yang sangat dia kenal “Ibu..Rena..!” Ia menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang. Seorang pria turun dari gojek menghampiri dia dan ibunya. Wajahnya sedikit lebih kurus, tapi senyumnya mengembang tulus. “Abang…” suara Rena bergetar. Tanpa berpikir panjang, ia berlari sekuat tenaga. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia memeluk kakaknya erat-erat, seakan momen itu sangat berharga baginya.

“Maafkan abang ya dek karena baru datang, ini baju baru buat Rena,” bisik abang dengan suara parau. Setelah itu kakaknya mengahampiri ibunya, kemudian mencium tangan ibunya dengan takzim, Air matanya mengalir deras, “Ibu, abang mohon maaf lahir dan batin, belum bisa menjadi anak yang membanggakan”. Ibunya pun ikut meneteskan air mata, senyumnya menenangkan “Abang, ibu bangga mempunyai anak seperti abang, ibu minta maaf dan juga terima kasih karena abang sudah bekerja keras menggantikan ayah untuk keluarga kita”.  Di bawah langit yang cerah, di antara gema takbir yang belum sepenuhnya usai, Rena merasakan sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Bukan hanya karena baju barunya dan abangnya telah pulang,  tetapi karena ia mengerti makna sebenarnya dari hari itu.

Kembali ke fitrah bukan sekadar mengenakan baju baru atau menikmati hidangan lezat. Kembali ke fitrah adalah saat hati dibersihkan dari kecewa, saat maaf diucapkan dengan tulus, dan saat kasih sayang menjadi lebih penting daripada ego. Rena tersenyum sambil menggenggam tangan Ibu dan abangnya. Hari itu, ia benar-benar merasa lega. Bukan hanya keluarganya yang berkumpul, tetapi hatinya juga kembali ke fitrah.

 

Back