Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

Lebaran Sebagai Momentum Kembali ke Fitrah

By Khoirun Nadhifah, S.Pd

Di akhir bulan Ramadhan dengan langit yang cerah, Almira berdiri di depan jendela kamarnya. Takbir berkumandang sangat syahdu dari masjid dekat rumahnya. Hari itu adalah Hari Raya Idulfitri hari kebahagian seorang muslim. Suasana hati terasa hangat dan bahagia ketika takbir terus berkumandang . Almira adalah anak kelas 1 di Minu Pucang. Sejak awal Ramadhan, Almira belajar banyak hal. Dia belajar menahan lapar dan haus. Dia juga belajar menahan amarah saat adiknya mengganggu. Ibu selalu berkata, “Ramadhan adalah bulan untuk melatih hati agar menjadi lebih bersih.” Almira belum sepenuhnya mengerti, tetapi ia berusaha melakukannya.

Pada terakhir puasa Almira diberikan penjelasan oleh ibunya saat berbuka bersama tentang makna lebaran. “Idulfitri berarti kembali ke fitrah,” kata ibunya lembut. “Fitrah itu artinya keadaan suci, seperti bayi yang baru lahir. Kita kembali menjadi pribadi yang lebih baik setelah berpuasa.” Almira duduk dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan ibunya. Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Kembali ke fitrah….. menjadi pribadi yang lebih baik… Almira. Dia teringat pada sahabatnya, Rani. Beberapa minggu lalu, mereka sempat bertengkar karena salah paham. Sejak itu, mereka jarang bermain bersama. Hati Almira terasa tidak nyaman setiap kali melihat Rani di sekolah.

Pada pagi hari saat lebaran Almira shalat Idul fitri di masjid dekat rumahnya. Setelah salat Id di masjid, Almira berjalan bersama keluarganya untuk bersilaturahmi ke rumah tetangga. Semua orang tersenyum dan saling mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Anak-anak memakai baju baru berwarna cerah. Udara terasa sejuk dan penuh kegembiraan.

 

Saat tiba di depan rumah Rani, langkah Almira terhenti. Ia menatap ibunya ragu-ragu. Ibu tersenyum dan mengusap bahunya. “Inilah saatnya kembali ke fitrah, Nak,” bisik Ibu. Dengan hati berdebar, Almira mengetuk pintu. Rani yang membukanya. Mereka saling menatap beberapa detik. Almira menarik napas dalam-dalam. “Rani, maafkan aku ya atas kesalahanku,” ucapnya Almira pelan.

Rani tersenyum, matanya berbinar. “Aku juga minta maaf, Almira. Aku juga salah.”

Tanpa ragu, mereka saling berpelukan. Hati Almira terasa sangat ringan, seolah beban besar telah hilang. Ia kini mengerti sedikit tentang makna kembali ke fitrah. Bukan hanya memakai baju baru, tetapi juga memiliki hati yang baru—hati yang bersih dari marah dan dendam.

Di dalam rumah, orang tua mereka berbincang dengan hangat. Almirah dan Rani kembali tertawa bersama seperti dulu. Mereka berbagi kue lebaran dan bercerita tentang pengalaman puasa masing-masing. Dalam perjalanan pulang, Almira menggenggam tangan Ayah.

“Ayah, sekarang aku tahu. Lebaran bukan hanya tentang makanan enak dan baju baru, ya?” Ayah tersenyum bangga. “Benar sekali. Lebaran adalah tentang memperbaiki diri dan mempererat persaudaraan.”

Malam harinya, Almira menuliskan di buku hariannya:

“Hari ini aku belajar bahwa makna lebaran adalah kembali menjadi anak yang baik dan pemaaf. Aku ingin menjaga hatiku tetap bersih, tidak hanya saat Ramadhan, tetapi setiap hari.”

 Sejak saat itu, Almira berusaha menjaga sikapnya. Ia lebih sabar kepada adiknya, lebih rajin membantu ibu, dan lebih mudah memaafkan teman. Baginya, Idulfitri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan di bawah langit malam yang tenang, Almira tersenyum. Ia merasa hatinya benar-benar telah kembali ke fitrah—bersih, damai, dan penuh kasih sayang. Beberapa hari setelah lebaran, suasana kampung Aisyah masih terasa meriah. Lampu hias masih tergantung di depan rumah, dan aroma kue kering masih tercium setiap kali tamu datang berkunjung. Namun, bagi Almira, ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya karena dia sudah bisa berteman dan bermain bersama dengan sahabatnya.

 

 

Back