Lebaran Sebagai Momentum Kembali ke Fitrah
By Khoirun Nadhifah, S.Pd
Di akhir bulan Ramadhan dengan langit yang cerah, Almira
berdiri di depan jendela kamarnya. Takbir berkumandang sangat syahdu dari
masjid dekat rumahnya. Hari itu adalah Hari Raya Idulfitri hari kebahagian
seorang muslim. Suasana hati terasa hangat dan bahagia ketika takbir terus
berkumandang . Almira adalah anak kelas 1 di Minu Pucang. Sejak awal Ramadhan, Almira
belajar banyak hal. Dia belajar menahan lapar dan haus. Dia juga belajar
menahan amarah saat adiknya mengganggu. Ibu selalu berkata, “Ramadhan adalah
bulan untuk melatih hati agar menjadi lebih bersih.” Almira belum sepenuhnya
mengerti, tetapi ia berusaha melakukannya.
Pada terakhir puasa Almira diberikan penjelasan
oleh ibunya saat berbuka bersama tentang makna lebaran. “Idulfitri berarti
kembali ke fitrah,” kata ibunya lembut. “Fitrah itu artinya keadaan suci,
seperti bayi yang baru lahir. Kita kembali menjadi pribadi yang lebih baik
setelah berpuasa.” Almira duduk dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan
ibunya. Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Kembali ke fitrah…..
menjadi pribadi yang lebih baik… Almira. Dia teringat pada sahabatnya, Rani.
Beberapa minggu lalu, mereka sempat bertengkar karena salah paham. Sejak itu,
mereka jarang bermain bersama. Hati Almira terasa tidak nyaman setiap kali
melihat Rani di sekolah.
Pada pagi hari saat lebaran Almira shalat Idul
fitri di masjid dekat rumahnya. Setelah salat Id di masjid, Almira berjalan
bersama keluarganya untuk bersilaturahmi ke rumah tetangga. Semua orang
tersenyum dan saling mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Anak-anak
memakai baju baru berwarna cerah. Udara terasa sejuk dan penuh kegembiraan.
Saat
tiba di depan rumah Rani, langkah Almira terhenti. Ia menatap ibunya ragu-ragu.
Ibu tersenyum dan mengusap bahunya. “Inilah saatnya kembali ke fitrah, Nak,”
bisik Ibu. Dengan hati berdebar, Almira mengetuk pintu. Rani yang membukanya.
Mereka saling menatap beberapa detik. Almira menarik napas dalam-dalam. “Rani,
maafkan aku ya atas kesalahanku,” ucapnya Almira pelan.
Rani
tersenyum, matanya berbinar. “Aku juga minta maaf, Almira. Aku juga salah.”
Tanpa
ragu, mereka saling berpelukan. Hati Almira terasa sangat ringan, seolah beban
besar telah hilang. Ia kini mengerti sedikit tentang makna kembali ke fitrah.
Bukan hanya memakai baju baru, tetapi juga memiliki hati yang baru—hati yang
bersih dari marah dan dendam.
Di dalam rumah, orang tua mereka berbincang dengan
hangat. Almirah dan Rani kembali tertawa bersama seperti dulu. Mereka berbagi
kue lebaran dan bercerita tentang pengalaman puasa masing-masing. Dalam
perjalanan pulang, Almira menggenggam tangan Ayah.
“Ayah, sekarang aku tahu. Lebaran bukan hanya
tentang makanan enak dan baju baru, ya?” Ayah tersenyum bangga. “Benar sekali.
Lebaran adalah tentang memperbaiki diri dan mempererat persaudaraan.”
Malam harinya, Almira menuliskan di buku
hariannya:
“Hari ini aku belajar bahwa makna lebaran adalah
kembali menjadi anak yang baik dan pemaaf. Aku ingin menjaga hatiku tetap
bersih, tidak hanya saat Ramadhan, tetapi setiap hari.”
Sejak saat
itu, Almira berusaha menjaga sikapnya. Ia lebih sabar kepada adiknya, lebih
rajin membantu ibu, dan lebih mudah memaafkan teman. Baginya, Idulfitri
bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih
baik.
Dan di bawah langit malam yang tenang, Almira
tersenyum. Ia merasa hatinya benar-benar telah kembali ke fitrah—bersih, damai,
dan penuh kasih sayang. Beberapa hari setelah lebaran, suasana kampung Aisyah
masih terasa meriah. Lampu hias masih tergantung di depan rumah, dan aroma kue
kering masih tercium setiap kali tamu datang berkunjung. Namun, bagi Almira,
ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya karena dia sudah bisa berteman dan
bermain bersama dengan sahabatnya.
Back

