Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

Ikhlas yang Membebaskan (By Khumaidah Uniati, S.Pd.I., MM)

Suara takbir mulai menggema dari pengeras suara masjid, bersahutan di antara gang-gang sempit desa. Bagi kebanyakan orang, irama itu adalah nyanyian kemenangan. Namun bagi Aris, setiap ketukan bedug terasa seperti palu yang menghantam dadu egonya. Di tangannya, sebuah amplop cokelat kusam berisi surat permohonan maaf dari ayahnya masih terlipat rapi, belum tersentuh selama tiga tahun.

Lebaran selalu menjadi momen yang menyesakkan. Aris masih menyimpan luka lama tentang kepergian ayahnya saat keluarga mereka jatuh terpuruk. Ayahnya memilih lari, meninggalkan Aris dan ibunya berjuang melawan gunungan utang. "Maafkan ayahmu, Ris. Dia juga manusia yang bisa takut," ujar Ibu sore itu sambil menata ketupat di meja makan.

Aris mendengus. "Takut bukan alasan untuk berkhianat, Bu. Memaafkan itu mudah di lisan, tapi mengikhlaskan rasa sakitnya itu yang mustahil."

Ibu hanya tersenyum tipis, sorot matanya teduh namun menyimpan keteguhan. "Ikhlas itu bukan berarti melupakan kejadiannya, tapi melepaskan jeratan emosinya dari hatimu. Selama kamu mendendam, kamu sebenarnya masih terpenjara oleh masa lalu."

Malam semakin larut. Aris duduk di teras, menatap langit yang bersih. Ia teringat masa kecilnya, saat Ayah memanggulnya di bahu untuk melihat kembang api Lebaran. Memori itu terasa asing, tertutup debu kemarahan yang ia pelihara dengan saksama. Ia menyadari satu hal: selama tiga tahun ini, ia sukses secara finansial, tapi batinnya gersang. Ia selalu merasa ada beban tak kasat mata yang membuatnya sulit bernapas lega.

Keesokan paginya, usai salat Id, suasana haru biru menyelimuti lingkungan sekitar. Tetangga saling berpelukan, melepaskan beban lewat kata "mohon maaf lahir dan batin". Aris melihat seorang anak kecil berlari memeluk ayahnya yang baru pulang merantau. Ada sesuatu yang retak di dalam dada Aris—tembok keangkuhannya mulai goyah.

 

Ia masuk ke kamar, mengambil amplop cokelat itu, dan akhirnya membacanya. Surat itu pendek, ditulis dengan tangan yang gemetar. Ayahnya tidak meminta untuk kembali atau meminta uang; ia hanya meminta pengampunan agar bisa mati dengan tenang dari rasa bersalah yang menggerogotinya. Ayahnya menulis bahwa ia telah gagal sebagai kepala keluarga, dan penyesalan itu adalah penjara yang jauh lebih kejam daripada kemiskinan.

Tiba-tiba, ponsel Aris bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor asing: *"Selamat Lebaran, Aris. Ayah ada di depan gerbang. Ayah tidak akan masuk jika kamu belum siap. Ayah hanya ingin melihatmu dari jauh."*

Aris berlari ke depan. Di sana, di bawah pohon mangga yang rindang, berdiri seorang lelaki tua dengan rambut yang memutih seluruhnya. Tubuhnya ringkih, jauh dari bayangan sosok perkasa yang dulu ia benci. Saat mata mereka bertemu, Aris melihat bukan lagi seorang pengkhianat, melainkan jiwa yang lelah dan penuh penyesalan.

Seketika, kata-kata Ibu terngiang. Memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri agar bisa melangkah maju. Aris menarik napas panjang, mengeluarkan seluruh sesak yang mengendap bertahun-tahun. Ia melangkah mendekat, lalu perlahan mengulurkan tangannya.

 "Selamat Lebaran, Yah. Masuklah, Ibu sudah menunggu," ucap Aris lirih.

Tidak ada ledakan tangis yang dramatis, hanya sebuah pelukan canggung yang perlahan mengerat. Di pagi yang fitri itu, Aris belajar bahwa mengikhlaskan bukan berarti kalah. Mengikhlaskan adalah cara paling elegan untuk menang atas diri sendiri dan membuka lembaran baru yang benar-benar bersih.

Back