Ikhlas yang Membebaskan (By Khumaidah Uniati, S.Pd.I., MM)
Suara
takbir mulai menggema dari pengeras suara masjid, bersahutan di antara
gang-gang sempit desa. Bagi kebanyakan orang, irama itu adalah nyanyian
kemenangan. Namun bagi Aris, setiap ketukan bedug terasa seperti palu yang
menghantam dadu egonya. Di tangannya, sebuah amplop cokelat kusam berisi surat
permohonan maaf dari ayahnya masih terlipat rapi, belum tersentuh selama tiga
tahun.
Lebaran
selalu menjadi momen yang menyesakkan. Aris masih menyimpan luka lama tentang
kepergian ayahnya saat keluarga mereka jatuh terpuruk. Ayahnya memilih lari,
meninggalkan Aris dan ibunya berjuang melawan gunungan utang. "Maafkan
ayahmu, Ris. Dia juga manusia yang bisa takut," ujar Ibu sore itu sambil
menata ketupat di meja makan.
Aris
mendengus. "Takut bukan alasan untuk berkhianat, Bu. Memaafkan itu mudah
di lisan, tapi mengikhlaskan rasa sakitnya itu yang mustahil."
Ibu
hanya tersenyum tipis, sorot matanya teduh namun menyimpan keteguhan.
"Ikhlas itu bukan berarti melupakan kejadiannya, tapi melepaskan jeratan
emosinya dari hatimu. Selama kamu mendendam, kamu sebenarnya masih terpenjara
oleh masa lalu."
Malam
semakin larut. Aris duduk di teras, menatap langit yang bersih. Ia teringat
masa kecilnya, saat Ayah memanggulnya di bahu untuk melihat kembang api
Lebaran. Memori itu terasa asing, tertutup debu kemarahan yang ia pelihara
dengan saksama. Ia menyadari satu hal: selama tiga tahun ini, ia sukses secara
finansial, tapi batinnya gersang. Ia selalu merasa ada beban tak kasat mata
yang membuatnya sulit bernapas lega.
Keesokan
paginya, usai salat Id, suasana haru biru menyelimuti lingkungan sekitar.
Tetangga saling berpelukan, melepaskan beban lewat kata "mohon maaf lahir
dan batin". Aris melihat seorang anak kecil berlari memeluk ayahnya yang
baru pulang merantau. Ada sesuatu yang retak di dalam dada Aris—tembok
keangkuhannya mulai goyah.
Ia
masuk ke kamar, mengambil amplop cokelat itu, dan akhirnya membacanya. Surat
itu pendek, ditulis dengan tangan yang gemetar. Ayahnya tidak meminta untuk
kembali atau meminta uang; ia hanya meminta pengampunan agar bisa mati dengan
tenang dari rasa bersalah yang menggerogotinya. Ayahnya menulis bahwa ia telah
gagal sebagai kepala keluarga, dan penyesalan itu adalah penjara yang jauh
lebih kejam daripada kemiskinan.
Tiba-tiba,
ponsel Aris bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor asing:
*"Selamat Lebaran, Aris. Ayah ada di depan gerbang. Ayah tidak akan masuk
jika kamu belum siap. Ayah hanya ingin melihatmu dari jauh."*
Aris
berlari ke depan. Di sana, di bawah pohon mangga yang rindang, berdiri seorang
lelaki tua dengan rambut yang memutih seluruhnya. Tubuhnya ringkih, jauh dari
bayangan sosok perkasa yang dulu ia benci. Saat mata mereka bertemu, Aris
melihat bukan lagi seorang pengkhianat, melainkan jiwa yang lelah dan penuh
penyesalan.
Seketika,
kata-kata Ibu terngiang. Memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri agar bisa
melangkah maju. Aris menarik napas panjang, mengeluarkan seluruh sesak yang
mengendap bertahun-tahun. Ia melangkah mendekat, lalu perlahan mengulurkan
tangannya.
"Selamat Lebaran, Yah. Masuklah, Ibu sudah menunggu," ucap Aris lirih.
Tidak
ada ledakan tangis yang dramatis, hanya sebuah pelukan canggung yang perlahan
mengerat. Di pagi yang fitri itu, Aris belajar bahwa mengikhlaskan bukan
berarti kalah. Mengikhlaskan adalah cara paling elegan untuk menang atas diri
sendiri dan membuka lembaran baru yang benar-benar bersih.
Back

