Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

Mengayuh Pedal Tua (By Supri Widianto, M.Pd)

"Mengayuh Pedal Tua"

Di tengah kota Jakarta yang megah dengan gedung gedung mewah  menjulang tinggi, Pak Wiryo berkeliling menjajakan pisang goreng dagangannya. Dengan penuh semangat setiap hari dia mengayuh sepedanya untuk mencari sesuap nasi. Ada yang berbeda dengan hari ini, biasanya dia berangkat berjualan di pagi sampai sore hari. Sekarang dia berjualan mulai sore hari sampai malam. Karena di bulan puasa ini dia mengais rezeki, mencari peruntungan untuk dengan tetap mengayuh sepeda tuanya dengan keadaan berpuasa.

 Di bawah naungan bayang-bayang gedung pencakar langit Jakarta yang memantulkan cahaya lampu kota, sepeda ontel Pak Wiryo berderit pelan. Aroma pisang goreng yang digoreng dengan minyak kelapa asli menguar, beradu dengan polusi kendaraan yang mulai padat merayap.

Pak Wiryo menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah tipis. Napasnya memburu, bukan hanya karena kelelahan mengayuh pedal, tapi juga karena dahaga yang mulai terasa di tenggorokannya. Ini hari ke-25 Ramadan. Tubuh tua rentanya memang lemas, namun semangatnya tetap tegak.

Takdir di Balik Lampu Merah

Saat berhenti di persimpangan jalan yang sibuk, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di samping sepedanya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah seorang pria paruh baya yang rapi dengan setelan jasnya.

"Pak, sisa berapa pisangnya?" tanya pria itu.

"Tinggal lima, Pak. Ini sudah yang terakhir," jawab Pak Wiryo dengan senyum yang dipaksakan agar tidak terlihat pucat.

Pria itu mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah, namun hanya mengambil satu pisang. "Ambil saja kembaliannya, Pak. Buat berbuka nanti."

Pak Wiryo terdiam sejenak. Tangannya gemetar saat menerima uang itu. Bagi orang lain, seratus ribu mungkin hanya biaya parkir, atau sekedar beli kopi di starbuck,  tapi bagi Pak Wiryo, itu adalah jawaban atas doa yang ia panjatkan di sela-sela kayuhan sepedanya—doa agar ia bisa membelikan baju baru untuk cucunya di kampung, atau setidaknya cukup untuk membeli daging ayam untuk berbuka nanti.

Keikhlasan yang Diuji

Namun, takdir punya rencana lain. Tepat saat pria itu berlalu, seorang wanita tua pemulung yang tampak kebingungan terduduk lemas di trotoar tak jauh dari sana. Pak Wiryo melihatnya. Ia tahu, uang di tangannya cukup untuk membeli lauk pauk yang layak untuk hari ini.

Pak Wiryo menatap pisang goreng terakhir di stannya, lalu menatap uang di genggamannya. Ada pergulatan batin. Bukankah dia juga butuh? Bukankah dia sudah berpuasa seharian?

Dengan satu tarikan napas panjang, Pak Wiryo memanggil wanita tua itu. Ia memberikan sisa empat pisang gorengnya, dan menyisipkan setengah dari uang yang baru saja ia terima ke tangan wanita tersebut.

"Makanlah, Bu. Mari kita berbuka bersama dengan apa yang ada," ucap Pak Wiryo tulus.

 Lebaran yang Sesungguhnya

Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta yang megah, Pak Wiryo tidak pulang membawa banyak uang. Uangnya habis untuk berbagi. Suara adzan magrib menggema, Ia kayuh pedal tuanya ke masjid untuk berbuka.

Ia hanya duduk bersandar pada sepeda tuanya. Di pelataran sebuah masjid kecil, menikmati secangkir teh hangat dan sisa satu pisang goreng miliknya sendiri. Ia tidak merasa kekurangan. Justru, saat ia melafalkan doa berbuka puasa, ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Baginya, Jakarta yang megah dengan segala kemewahannya tidak sebanding dengan kedamaian di hatinya.

Pak Wiryo tersenyum menatap langit malam. Ia sadar, Lebaran bukan tentang berapa banyak harta yang ia bawa pulang ke kampung halaman, tetapi tentang seberapa besar ruang di hatinya untuk ikhlas melepaskan. Besok, ia akan mengayuh sepedanya lagi. Bukan untuk mengejar dunia yang tak kunjung selesai, tapi untuk terus berbagi kebaikan, karena ia telah menemukan bahwa di balik setiap kayuhan yang ikhlas, selalu ada berkah yang tak terduga dari Allah SWT. 

Back