Mengayuh Pedal Tua (By Supri Widianto, M.Pd)
"Mengayuh Pedal Tua"
Di tengah kota Jakarta yang megah dengan
gedung gedung mewah menjulang tinggi,
Pak Wiryo berkeliling menjajakan pisang goreng dagangannya. Dengan penuh
semangat setiap hari dia mengayuh sepedanya untuk mencari sesuap nasi. Ada yang
berbeda dengan hari ini, biasanya dia berangkat berjualan di pagi sampai sore
hari. Sekarang dia berjualan mulai sore hari sampai malam. Karena di bulan
puasa ini dia mengais rezeki, mencari peruntungan untuk dengan tetap mengayuh
sepeda tuanya dengan keadaan berpuasa.
Di
bawah naungan bayang-bayang gedung pencakar langit Jakarta yang memantulkan
cahaya lampu kota, sepeda ontel Pak Wiryo berderit pelan. Aroma pisang goreng
yang digoreng dengan minyak kelapa asli menguar, beradu dengan polusi kendaraan
yang mulai padat merayap.
Pak Wiryo menyeka keringat di dahinya
dengan lengan baju yang sudah tipis. Napasnya memburu, bukan hanya karena
kelelahan mengayuh pedal, tapi juga karena dahaga yang mulai terasa di
tenggorokannya. Ini hari ke-25 Ramadan. Tubuh tua rentanya memang lemas, namun
semangatnya tetap tegak.
Takdir di Balik Lampu Merah
Saat berhenti di persimpangan jalan yang
sibuk, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di samping sepedanya. Kaca
jendela turun perlahan, menampakkan wajah seorang pria paruh baya yang rapi
dengan setelan jasnya.
"Pak, sisa berapa pisangnya?" tanya pria itu.
"Tinggal lima, Pak. Ini sudah yang
terakhir," jawab Pak Wiryo dengan senyum yang
dipaksakan agar tidak terlihat pucat.
Pria itu mengeluarkan selembar uang seratus
ribu rupiah, namun hanya mengambil satu pisang. "Ambil saja
kembaliannya, Pak. Buat berbuka nanti."
Pak Wiryo terdiam sejenak. Tangannya gemetar saat menerima uang itu. Bagi orang lain, seratus ribu mungkin hanya biaya parkir, atau sekedar beli kopi di starbuck, tapi bagi Pak Wiryo, itu adalah jawaban atas doa yang ia panjatkan di sela-sela kayuhan sepedanya—doa agar ia bisa membelikan baju baru untuk cucunya di kampung, atau setidaknya cukup untuk membeli daging ayam untuk berbuka nanti.
Keikhlasan yang Diuji
Namun, takdir punya rencana lain. Tepat
saat pria itu berlalu, seorang wanita tua pemulung yang tampak kebingungan
terduduk lemas di trotoar tak jauh dari sana. Pak Wiryo melihatnya. Ia tahu,
uang di tangannya cukup untuk membeli lauk pauk yang layak untuk hari ini.
Pak Wiryo menatap pisang goreng terakhir di stannya, lalu menatap uang di genggamannya. Ada pergulatan batin. Bukankah dia juga butuh? Bukankah dia sudah berpuasa seharian?
Dengan satu tarikan napas panjang, Pak Wiryo memanggil wanita tua itu. Ia memberikan sisa empat pisang gorengnya, dan menyisipkan setengah dari uang yang baru saja ia terima ke tangan wanita tersebut.
"Makanlah, Bu. Mari kita berbuka
bersama dengan apa yang ada," ucap Pak Wiryo tulus.
Lebaran yang Sesungguhnya
Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta
yang megah, Pak Wiryo tidak pulang membawa banyak uang. Uangnya habis untuk
berbagi. Suara adzan magrib menggema, Ia kayuh pedal tuanya ke masjid untuk
berbuka.
Ia hanya duduk bersandar pada sepeda tuanya.
Di pelataran sebuah masjid kecil, menikmati secangkir teh hangat dan sisa satu
pisang goreng miliknya sendiri. Ia tidak merasa kekurangan. Justru, saat ia
melafalkan doa berbuka puasa, ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Baginya,
Jakarta yang megah dengan segala kemewahannya tidak sebanding dengan kedamaian
di hatinya.
Pak Wiryo tersenyum menatap langit malam.
Ia sadar, Lebaran bukan tentang berapa banyak harta yang ia bawa pulang ke
kampung halaman, tetapi tentang seberapa besar ruang di hatinya untuk ikhlas
melepaskan. Besok, ia akan mengayuh sepedanya lagi. Bukan untuk mengejar dunia
yang tak kunjung selesai, tapi untuk terus berbagi kebaikan, karena ia telah
menemukan bahwa di balik setiap kayuhan yang ikhlas, selalu ada berkah yang tak
terduga dari Allah SWT.

