Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

Ketika Maaf Tak Lagi Cukup (By Dina Nailatur Rohmah, M.Pd)


Takbir menggema dari ponsel-ponsel, televisi, dan pengeras suara masjid. Di apartemen kecil lantai sembilan, Salma duduk termenung di dekat jendela. Lampu-lampu kota berkelip indah, namun hatinya terasa kosong. Lebaran kembali datang, tapi tahun ini rasanya berbeda lebih sunyi, lebih berat.

Di layar ponselnya, notifikasi media sosial tak berhenti berbunyi. Foto keluarga dengan baju seragam, meja penuh hidangan mewah, dan caption bertuliskan “Lebaran penuh berkah” memenuhi linimasa. Salma menggulir pelan, lalu mematikan layar. Ia menarik napas panjang.

Sejak pandemi beberapa tahun lalu, hidup keluarganya berubah. Ayahnya kehilangan pekerjaan, ibunya membuka usaha kecil-kecilan dari rumah, sementara Salma bekerja lepas sebagai desainer grafis dengan penghasilan tak menentu. Lebaran yang dulu identik dengan mudik dan kebersamaan kini hanya dirayakan sederhana, bahkan terkadang diselimuti kekhawatiran soal biaya hidup.

“Salma, sudah siap zakat fitrahnya?” suara ibu memecah keheningan.

Salma mengangguk. “Sudah, Bu. Tapi… apakah cukup?”

Ibu tersenyum lembut. “Keikhlasan tidak diukur dari jumlah, Nak.”

Kata itu Ikhlas terngiang lama di kepala Salma. Ia sering mendengarnya, namun semakin dewasa, semakin sulit mempraktikkannya. Dunia terasa bergerak cepat, penuh perbandingan, tuntutan, dan gengsi. Bahkan ibadah pun kadang terasa seperti perlombaan: siapa yang paling dermawan, siapa yang paling tampak religius.

Keesokan paginya, setelah shalat Id, Salma dan ibunya berjalan menuju posko zakat di dekat mushala. Di sana, Salma melihat antrean warga, ada pengemudi ojek daring, ibu rumah tangga, buruh harian, dan lansia yang berjalan perlahan. Wajah-wajah lelah itu membuat dadanya sesak.

Ia teringat komentar pedas yang pernah ia tulis di media sosial, menghakimi orang lain yang dianggap “kurang berusaha”. Saat itu ia merasa benar. Kini ia sadar, tidak semua orang punya pilihan yang sama dalam hidup.

Di sudut mushollah, Salma melihat seorang anak kecil memeluk kantong sembako dengan wajah berbinar. Entah mengapa, matanya terasa panas. Ia tiba-tiba paham bahwa keikhlasan bukan hanya soal memberi, tapi juga soal berhenti merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sepulangnya, Salma membuka kembali ponselnya. Kali ini bukan untuk membandingkan hidupnya, melainkan untuk menghapus beberapa unggahan lama yang penuh keluhan dan sindiran. Ia menulis satu kalimat singkat:

“Lebaran ini mengajarkanku bahwa memaafkan orang lain tidak akan sempurna tanpa memaafkan keadaan, dan memaafkan diri sendiri.”

Siang itu, ada pesan masuk dari seorang klien lama yang pernah ia keluhkan karena bayaran kecil. Klien itu meminta maaf karena belum bisa membayar tepat waktu, namun berjanji akan melunasi.

Dulu, Salma mungkin akan membalas dengan nada dingin. Namun hari itu, ia mengetik dengan hati yang lebih lapang:

“Tidak apa-apa. Semoga keadaan Bapak segera membaik. Selamat Lebaran.”

Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan.

Sore menjelang, Salma dan ibunya duduk di ruang tamu sederhana. Tidak ada hidangan mewah, hanya ketupat, telur balado, dan teh hangat. Namun tawa kecil mereka mengisi ruangan dengan rasa cukup.

“Bu,” kata Salma pelan, “aku baru sadar, Lebaran bukan tentang siapa yang paling berhasil, tapi siapa yang paling tulus menerima.”

Ibu mengangguk. “Benar. Dunia boleh keras, tapi hati kita jangan ikut mengeras.”

Di luar, suara takbir kembali terdengar. Salma menatap langit yang mulai gelap. Ia tahu masalah dunia tidak akan hilang begitu saja kemiskinan, ketidakadilan, persaingan, dan kecemasan masih ada. Namun Lebaran memberinya satu bekal penting bahwa keikhlasan untuk menjalani hidup tanpa terus membandingkan, tanpa menyimpan dendam, dan tanpa kehilangan empati. Malam itu, Salma merasa benar-benar pulang bukan ke kampung halaman, melainkan ke fitrah dirinya sendiri. 

Back