Ketika Maaf Tak Lagi Cukup (By Dina Nailatur Rohmah, M.Pd)
Takbir menggema dari ponsel-ponsel,
televisi, dan pengeras suara masjid. Di apartemen kecil lantai sembilan, Salma
duduk termenung di dekat jendela. Lampu-lampu kota berkelip indah, namun
hatinya terasa kosong. Lebaran kembali datang, tapi tahun ini rasanya berbeda
lebih sunyi, lebih berat.
Di layar
ponselnya, notifikasi media sosial tak berhenti berbunyi. Foto keluarga dengan
baju seragam, meja penuh hidangan mewah, dan caption bertuliskan “Lebaran penuh berkah” memenuhi
linimasa. Salma menggulir pelan, lalu mematikan layar. Ia menarik napas
panjang.
Sejak pandemi beberapa tahun
lalu, hidup keluarganya berubah. Ayahnya kehilangan pekerjaan, ibunya membuka
usaha kecil-kecilan dari rumah, sementara Salma bekerja lepas sebagai desainer
grafis dengan penghasilan tak menentu. Lebaran yang dulu identik dengan mudik
dan kebersamaan kini hanya dirayakan sederhana, bahkan terkadang diselimuti
kekhawatiran soal biaya hidup.
“Salma, sudah siap zakat fitrahnya?” suara
ibu memecah keheningan.
Salma mengangguk. “Sudah, Bu. Tapi… apakah
cukup?”
Ibu tersenyum lembut. “Keikhlasan tidak
diukur dari jumlah, Nak.”
Kata itu Ikhlas terngiang lama di kepala Salma. Ia sering mendengarnya,
namun semakin dewasa, semakin sulit mempraktikkannya. Dunia terasa bergerak
cepat, penuh perbandingan, tuntutan, dan gengsi. Bahkan ibadah pun kadang
terasa seperti perlombaan: siapa yang paling dermawan, siapa yang paling tampak
religius.
Keesokan paginya, setelah shalat
Id, Salma dan ibunya berjalan menuju posko zakat di dekat mushala. Di sana,
Salma melihat antrean warga, ada pengemudi ojek daring, ibu rumah tangga, buruh
harian, dan lansia yang berjalan perlahan. Wajah-wajah lelah itu membuat
dadanya sesak.
Ia teringat komentar pedas yang
pernah ia tulis di media sosial, menghakimi orang lain yang dianggap “kurang berusaha”.
Saat itu ia merasa benar. Kini ia sadar, tidak semua orang punya pilihan yang
sama dalam hidup.
Di sudut mushollah, Salma melihat
seorang anak kecil memeluk kantong sembako dengan wajah berbinar. Entah
mengapa, matanya terasa panas. Ia tiba-tiba paham bahwa keikhlasan bukan hanya
soal memberi, tapi juga soal berhenti merasa lebih tinggi dari orang lain.
Sepulangnya, Salma membuka
kembali ponselnya. Kali ini bukan untuk membandingkan hidupnya, melainkan untuk
menghapus beberapa unggahan lama yang penuh keluhan dan sindiran. Ia menulis
satu kalimat singkat:
“Lebaran ini mengajarkanku bahwa memaafkan
orang lain tidak akan sempurna tanpa memaafkan keadaan, dan memaafkan diri
sendiri.”
Siang itu, ada pesan masuk dari
seorang klien lama yang pernah ia keluhkan karena bayaran kecil. Klien itu
meminta maaf karena belum bisa membayar tepat waktu, namun berjanji akan
melunasi.
Dulu, Salma mungkin akan membalas dengan nada dingin. Namun
hari itu, ia mengetik dengan hati yang lebih lapang:
“Tidak apa-apa. Semoga keadaan Bapak segera
membaik. Selamat Lebaran.”
Ia tersenyum kecil. Untuk pertama
kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan.
Sore menjelang, Salma dan ibunya
duduk di ruang tamu sederhana. Tidak ada hidangan mewah, hanya ketupat, telur balado,
dan teh hangat. Namun tawa kecil mereka mengisi ruangan dengan rasa cukup.
“Bu,” kata Salma pelan, “aku baru
sadar, Lebaran bukan tentang siapa yang paling berhasil, tapi siapa yang paling
tulus menerima.”
Ibu mengangguk. “Benar. Dunia
boleh keras, tapi hati kita jangan ikut mengeras.”
Di luar, suara takbir kembali
terdengar. Salma menatap langit yang mulai gelap. Ia tahu masalah dunia tidak
akan hilang begitu saja kemiskinan, ketidakadilan, persaingan, dan kecemasan
masih ada. Namun Lebaran memberinya satu bekal penting bahwa keikhlasan untuk
menjalani hidup tanpa terus membandingkan, tanpa menyimpan dendam, dan tanpa
kehilangan empati. Malam itu, Salma merasa benar-benar pulang bukan ke kampung
halaman, melainkan ke fitrah dirinya sendiri.

