Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

SEMARAK HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI, KELUARGA BESAR JENGGOLO 53 GELAR UPACARA BENDERA

Suasana khidmat dan penuh semangat nasionalisme terasa di lingkungan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara diikuti oleh keluarga besar Jenggolo 53 sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus refleksi untuk mengisi kemerdekaan.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Dr. M. Hamim Thohari, S.Pd., MM., selaku Kepala Madrasah MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo. Dalam amanatnya, beliau mengajak seluruh peserta upacara untuk tidak hanya memaknai kemerdekaan sebagai sebuah perayaan, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga dan diisi dengan prestasi.

Dalam amanatnya, Bapak M. Hamim Thohari mengawali pesan dengan mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sosok manusia terbaik yang menjadi teladan umat Islam. Beliau juga mengingatkan pentingnya menghormati para ulama sebagai warasatul anbiya, pewaris ilmu dan ajaran para nabi. Melalui para ulama, umat dapat mengenal dan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

"Semoga kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW. Kita juga harus menghormati para ulama, karena dari beliau-beliau kita mengetahui ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW," pesan beliau.

Memasuki pesan tentang kemerdekaan, Bapak M. Hamim Thohari mengingatkan bahwa 81 tahun perjalanan Indonesia bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 merupakan hasil perjuangan panjang yang mengorbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan nyawa para pejuang. Para pendahulu berjuang dengan satu harapan besar: agar anak cucu mereka tidak lagi mengalami penderitaan dan penjajahan seperti yang mereka rasakan. "Karena kasih sayang mereka kepada negara dan bangsa, mereka rela berkorban agar anak cucunya tidak mengalami penjajahan," tutur beliau. Karena itu, generasi saat ini memiliki tugas untuk menjaga apa yang telah diwariskan oleh para pahlawan.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana merebut kemerdekaan, tetapi bagaimana menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Salah satu penekanan dalam amanat tersebut adalah pentingnya membangun Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri.

Kedaulatan, menurut beliau, tidak hanya berkaitan dengan wilayah dan pemerintahan, tetapi juga kemampuan sebuah negara untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri, termasuk dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam.

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari nikel, batu bara, emas, tembaga, hingga minyak bumi. Kekayaan tersebut harus dikelola dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa. Beliau mencontohkan pentingnya hilirisasi, yaitu mengolah sumber daya alam menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Nikel, misalnya, tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk seperti bahan untuk baterai.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang menyediakan bahan mentah bagi negara lain. Generasi muda harus dipersiapkan menjadi generasi yang mampu menguasai ilmu dan teknologi sehingga Indonesia tidak mengalami bentuk penjajahan baru dalam bidang ekonomi.

Dalam amanatnya, Bapak M. Hamim Thohari juga memberikan perhatian khusus kepada para pelajar. Beliau mengingatkan agar para siswa tidak memiliki keinginan untuk sekadar mencari kehidupan yang lebih nyaman di luar negeri setelah menempuh pendidikan, tetapi memiliki semangat untuk kembali dan ikut membangun Indonesia. "Kalian harus menjadi generasi yang pandai agar Indonesia tidak dijajah secara ekonomi oleh bangsa lain," pesan beliau.

Untuk itulah, para siswa MI Muslimat NU Pucang mendapatkan pembelajaran yang dirancang untuk menghadapi persaingan global. Para siswa belajar hingga sore dan mendapatkan pembelajaran dengan kurikulum internasional, sebagai bagian dari ikhtiar madrasah memberikan bekal ilmu yang berada di atas standar. Namun, ilmu tersebut harus benar-benar dikuasai.

Bapak M. Hamim Thohari berpesan agar siswa tidak belajar dengan setengah hati. Mereka harus bersungguh-sungguh menguasai berbagai bidang ilmu, terutama Al-Qur’an, sains, matematika, coding, teknologi informasi, serta bahasa Inggris.

"Jadikan Al-Qur’an sebagai panglima. Kuasai sains, matematika, coding, IT, dan yang paling penting adalah bahasa, terutama bahasa Inggris agar bisa memenangkan persaingan global," tegas beliau.

Di akhir amanat, beliau mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadi generasi penerus bangsa. Ilmu harus berjalan bersama akhlak. Para siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang unggul, tetapi juga memiliki karakter yang baik: tidak malas belajar, tidak mengganggu teman, tidak sombong, serta mampu menghargai orang lain.

"Jangan ogah-ogahan dan ramai ketika belajar. Jangan lupa kuat dalam akhlak. Jangan suka menggoda teman dan jangan sombong," pesan beliau kepada para siswa.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa generasi Indonesia masa depan tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus berkarakter.

Jika dahulu para pejuang memberikan harta dan nyawa untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini para pelajar memiliki medan perjuangan yang berbeda: belajar, menguasai ilmu, mengembangkan teknologi, menjaga akhlak, dan berkarya untuk negeri. Para siswa MI Muslimat NU Pucang diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu membawa nama baik madrasah, keluarga, dan Indonesia di tengah persaingan global. Kemerdekaan adalah warisan para pahlawan. Kedaulatan adalah tanggung jawab generasi penerus. Dan ilmu serta akhlak adalah bekal untuk mewujudkannya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Terus belajar. Terus berkarya. Terus berakhlak. Untuk Indonesia yang semakin berdaulat, adil, dan makmur.

Back