SEMARAK HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI, KELUARGA BESAR JENGGOLO 53 GELAR UPACARA BENDERA
Suasana khidmat dan penuh semangat
nasionalisme terasa di lingkungan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam
pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan
Republik Indonesia. Upacara diikuti oleh keluarga besar Jenggolo 53 sebagai
bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus refleksi untuk
mengisi kemerdekaan.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Dr. M.
Hamim Thohari, S.Pd., MM., selaku Kepala Madrasah MI Muslimat NU Pucang
Sidoarjo. Dalam amanatnya, beliau mengajak seluruh peserta upacara untuk tidak
hanya memaknai kemerdekaan sebagai sebuah perayaan, tetapi juga sebagai amanah
yang harus dijaga dan diisi dengan prestasi.
Dalam amanatnya, Bapak M. Hamim Thohari
mengawali pesan dengan mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk
senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sosok manusia terbaik yang
menjadi teladan umat Islam. Beliau juga mengingatkan pentingnya menghormati
para ulama sebagai warasatul anbiya, pewaris ilmu dan ajaran para nabi. Melalui
para ulama, umat dapat mengenal dan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasulullah
SAW.
"Semoga kita mendapatkan syafaat Nabi
Muhammad SAW. Kita juga harus menghormati para ulama, karena dari beliau-beliau
kita mengetahui ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW," pesan beliau.
Memasuki pesan tentang kemerdekaan, Bapak
M. Hamim Thohari mengingatkan bahwa 81 tahun perjalanan Indonesia bukanlah
sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17
Agustus 1945 merupakan hasil perjuangan panjang yang mengorbankan harta,
tenaga, pikiran, bahkan nyawa para pejuang. Para pendahulu berjuang dengan satu
harapan besar: agar anak cucu mereka tidak lagi mengalami penderitaan dan
penjajahan seperti yang mereka rasakan. "Karena kasih sayang mereka kepada
negara dan bangsa, mereka rela berkorban agar anak cucunya tidak mengalami
penjajahan," tutur beliau. Karena itu, generasi saat ini memiliki tugas
untuk menjaga apa yang telah diwariskan oleh para pahlawan.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana merebut
kemerdekaan, tetapi bagaimana menjadikan Indonesia sebagai negara yang
berdaulat, adil, dan makmur. Salah satu penekanan dalam amanat tersebut adalah
pentingnya membangun Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri.
Kedaulatan, menurut beliau, tidak hanya
berkaitan dengan wilayah dan pemerintahan, tetapi juga kemampuan sebuah negara
untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri, termasuk dalam bidang ekonomi,
teknologi, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya
alam yang sangat besar, mulai dari nikel, batu bara, emas, tembaga, hingga
minyak bumi. Kekayaan tersebut harus dikelola dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa. Beliau
mencontohkan pentingnya hilirisasi, yaitu mengolah sumber daya alam menjadi
produk yang memiliki nilai tambah. Nikel, misalnya, tidak hanya dijual sebagai
bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk seperti bahan untuk
baterai.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa
Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara yang menyediakan bahan mentah bagi
negara lain. Generasi muda harus dipersiapkan menjadi generasi yang mampu
menguasai ilmu dan teknologi sehingga Indonesia tidak mengalami bentuk
penjajahan baru dalam bidang ekonomi.
Dalam amanatnya, Bapak M. Hamim Thohari
juga memberikan perhatian khusus kepada para pelajar. Beliau mengingatkan agar
para siswa tidak memiliki keinginan untuk sekadar mencari kehidupan yang lebih
nyaman di luar negeri setelah menempuh pendidikan, tetapi memiliki semangat
untuk kembali dan ikut membangun Indonesia. "Kalian harus menjadi generasi
yang pandai agar Indonesia tidak dijajah secara ekonomi oleh bangsa lain,"
pesan beliau.
Untuk itulah, para siswa MI Muslimat NU
Pucang mendapatkan pembelajaran yang dirancang untuk menghadapi persaingan
global. Para siswa belajar hingga sore dan mendapatkan pembelajaran dengan
kurikulum internasional, sebagai bagian dari ikhtiar madrasah memberikan bekal
ilmu yang berada di atas standar. Namun, ilmu tersebut harus benar-benar
dikuasai.
Bapak M. Hamim Thohari berpesan agar siswa
tidak belajar dengan setengah hati. Mereka harus bersungguh-sungguh menguasai
berbagai bidang ilmu, terutama Al-Qur’an, sains, matematika, coding, teknologi
informasi, serta bahasa Inggris.
"Jadikan Al-Qur’an sebagai panglima.
Kuasai sains, matematika, coding, IT, dan yang paling penting adalah bahasa,
terutama bahasa Inggris agar bisa memenangkan persaingan global," tegas
beliau.
Di akhir amanat, beliau mengingatkan bahwa
kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadi generasi penerus bangsa. Ilmu harus
berjalan bersama akhlak. Para siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan
akademik yang unggul, tetapi juga memiliki karakter yang baik: tidak malas
belajar, tidak mengganggu teman, tidak sombong, serta mampu menghargai orang
lain.
"Jangan ogah-ogahan dan ramai ketika
belajar. Jangan lupa kuat dalam akhlak. Jangan suka menggoda teman dan jangan
sombong," pesan beliau kepada para siswa.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa
generasi Indonesia masa depan tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus
berkarakter.
Jika dahulu para pejuang memberikan harta
dan nyawa untuk merebut kemerdekaan, maka hari ini para pelajar memiliki medan
perjuangan yang berbeda: belajar, menguasai ilmu, mengembangkan teknologi,
menjaga akhlak, dan berkarya untuk negeri. Para siswa MI Muslimat NU Pucang
diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu membawa nama baik madrasah,
keluarga, dan Indonesia di tengah persaingan global. Kemerdekaan adalah warisan
para pahlawan. Kedaulatan adalah tanggung jawab generasi penerus. Dan ilmu
serta akhlak adalah bekal untuk mewujudkannya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Terus
belajar. Terus berkarya. Terus berakhlak. Untuk Indonesia yang semakin
berdaulat, adil, dan makmur.

