Working Time: 6.45 - 16.45

Artikel-Blog

PERINGATAN MAULID NABI DI MIS MUSLIMAT NU PUCANG: MENELADANI RASULULLAH, MENGHIDUPKAN SUNNAH DALAM KEHIDUPAN

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo menjadi momentum untuk kembali mengenalkan sosok Rasulullah SAW kepada para siswa, bukan hanya sebagai sejarah yang diceritakan, tetapi sebagai teladan yang dapat dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan berlangsung dalam suasana religius dan penuh kekhidmatan. Rangkaian kegiatan disusun berbeda untuk kelas kecil (kelas 1–3) dan kelas besar (kelas 4–6), dengan tetap mengedepankan pembiasaan ibadah, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan penguatan akhlak.

Untuk kelas kecil, kegiatan dimulai pukul 07.00–07.45 WIB dengan dzikir tiga teknik dan sholawat yang dipandu oleh Mr. Syarif. Kegiatan kemudian dilanjutkan pukul 07.45–08.45 WIB dengan membaca Juz Amma bersama Ma'am Devi.

Sementara itu, kelas besar memulai kegiatan lebih pagi, yaitu pukul 06.45–07.30 WIB, dengan istighotsah dan salat dhuha sesuai jadwal petugas. Setelah itu, pukul 07.30–08.15 WIB, siswa mengikuti dzikir dan sholawat yang dipimpin oleh Mr. Hamim.

Rangkaian pembiasaan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan Maulid Nabi. Sebelum berbicara tentang Rasulullah SAW, siswa terlebih dahulu diajak untuk menenangkan hati, berdzikir, bershalawat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada kelas besar, kegiatan dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an pada pukul 08.15–09.15 WIB yang dipandu oleh Ma'am Lilis, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Mr. Faiz.

Dalam pelaksanaannya, para guru juga memperhatikan tempo pembacaan agar tidak terlalu cepat sehingga siswa dapat mengikuti dan menghayati kegiatan dengan baik.

Bagi MIS Muslimat NU Pucang, kegiatan membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan, tetapi juga tentang membangun kebiasaan agar anak dekat dengan Al-Qur’an sejak dini.

Memasuki sesi tausiyah, para siswa diajak untuk memahami sosok Rasulullah SAW melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif.

Untuk kelas 1–3, materi Maulid Nabi disampaikan oleh Mafaza Rahmi (Ma'am Mafa). Sementara itu, siswa kelas 4–6 mendapatkan materi dari Faiz Nur Ihsan Arif (Mr. Faiz).

Materi yang disampaikan tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, tetapi mengajak siswa memahami mengapa Rasulullah begitu istimewa dan mengapa keteladanan beliau masih relevan hingga hari ini.

Beberapa pertanyaan utama yang menjadi bahan perenungan dalam kegiatan tersebut antara lain:

Mengapa Rasulullah Disebut Uswatun Hasanah?

Siswa diajak memahami makna Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, yaitu teladan terbaik. Keteladanan Rasulullah bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kejujuran, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, keberanian, dan cara beliau memperlakukan orang lain.

Dengan demikian, mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan bershalawat, tetapi juga berusaha meniru akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Ajaran Rasulullah Begitu Membekas di Hati Umat?

Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ajaran melalui kata-kata. Beliau menunjukkan langsung bagaimana ajaran tersebut dijalankan.

Kejujuran beliau menjadi contoh. Kesabaran beliau menjadi contoh. Kasih sayang beliau menjadi contoh. Karena itu, dakwah Rasulullah memiliki kekuatan yang besar karena umat dapat melihat dan merasakan langsung keteladanan tersebut.

Mengapa Dakwah Rasulullah Lebih Menekankan Keteladanan?

Para siswa diajak melihat bahwa manusia sering kali lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada sekadar apa yang didengar. Seorang guru yang mengajarkan kejujuran akan lebih mudah diteladani ketika ia sendiri bersikap jujur. Orang tua yang mengajarkan kesabaran akan lebih bermakna ketika anak melihat kesabaran itu dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula Rasulullah SAW. Beliau menghidupkan ajaran Islam melalui perilaku, sehingga dakwah tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dicontoh.

Ketika Generasi Muda Mulai Jauh dari Keteladanan Rasulullah

Pertanyaan berikutnya menjadi bahan refleksi bersama: mengapa di akhir zaman umat Islam semakin jauh dari ajaran Rasulullah SAW?

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi, anak-anak dapat melihat berbagai macam gaya hidup dan perilaku dari berbagai penjuru dunia. Tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Karena itu, tantangan generasi saat ini bukan hanya bagaimana mengenal Rasulullah, tetapi bagaimana menjadikan Rasulullah sebagai rujukan akhlak di tengah perubahan zaman.

Anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk memilih: mana yang baik untuk diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.

Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan

Peringatan Maulid Nabi di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah SAW harus diwujudkan dalam tindakan.

Ketika siswa berkata jujur, mereka sedang belajar meneladani Rasulullah.

Ketika mereka menghormati guru dan orang tua, mereka sedang belajar akhlak Rasulullah.

Ketika mereka menyayangi teman dan tidak menyakiti orang lain, mereka sedang menghadirkan kasih sayang yang diajarkan Rasulullah.

Dan ketika mereka bersungguh-sungguh belajar, menjaga ibadah, serta berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, mereka sedang menapaki jalan keteladanan Rasulullah SAW.

Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kelahiran Rasulullah, tetapi tentang menghadirkan kembali akhlaknya dalam kehidupan kita.

Semoga melalui kegiatan ini, para siswa MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah Muhammad SAW.

Mengenal beliau dengan ilmu, mencintai beliau dengan hati, dan meneladani beliau dengan perbuatan

Back