PERINGATAN MAULID NABI DI MIS MUSLIMAT NU PUCANG: MENELADANI RASULULLAH, MENGHIDUPKAN SUNNAH DALAM KEHIDUPAN
Peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo menjadi momentum untuk kembali
mengenalkan sosok Rasulullah SAW kepada para siswa, bukan hanya sebagai sejarah
yang diceritakan, tetapi sebagai teladan yang dapat dihadirkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Kegiatan berlangsung
dalam suasana religius dan penuh kekhidmatan. Rangkaian kegiatan disusun
berbeda untuk kelas kecil (kelas 1–3) dan kelas besar (kelas 4–6), dengan tetap
mengedepankan pembiasaan ibadah, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan penguatan
akhlak.
Untuk kelas kecil,
kegiatan dimulai pukul 07.00–07.45 WIB dengan dzikir tiga teknik dan sholawat
yang dipandu oleh Mr. Syarif. Kegiatan kemudian dilanjutkan pukul 07.45–08.45
WIB dengan membaca Juz Amma bersama Ma'am Devi.
Sementara itu, kelas
besar memulai kegiatan lebih pagi, yaitu pukul 06.45–07.30 WIB, dengan
istighotsah dan salat dhuha sesuai jadwal petugas. Setelah itu, pukul
07.30–08.15 WIB, siswa mengikuti dzikir dan sholawat yang dipimpin oleh Mr.
Hamim.
Rangkaian pembiasaan
tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan Maulid Nabi. Sebelum berbicara
tentang Rasulullah SAW, siswa terlebih dahulu diajak untuk menenangkan hati,
berdzikir, bershalawat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada kelas besar,
kegiatan dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an pada pukul 08.15–09.15 WIB yang
dipandu oleh Ma'am Lilis, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh
Mr. Faiz.
Dalam pelaksanaannya,
para guru juga memperhatikan tempo pembacaan agar tidak terlalu cepat sehingga
siswa dapat mengikuti dan menghayati kegiatan dengan baik.
Bagi MIS Muslimat NU
Pucang, kegiatan membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan,
tetapi juga tentang membangun kebiasaan agar anak dekat dengan Al-Qur’an sejak
dini.
Memasuki sesi tausiyah,
para siswa diajak untuk memahami sosok Rasulullah SAW melalui pertanyaan-pertanyaan
reflektif.
Untuk kelas 1–3, materi
Maulid Nabi disampaikan oleh Mafaza Rahmi (Ma'am Mafa). Sementara itu, siswa
kelas 4–6 mendapatkan materi dari Faiz Nur Ihsan Arif (Mr. Faiz).
Materi yang disampaikan
tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, tetapi mengajak
siswa memahami mengapa Rasulullah begitu istimewa dan mengapa keteladanan
beliau masih relevan hingga hari ini.
Beberapa pertanyaan
utama yang menjadi bahan perenungan dalam kegiatan tersebut antara lain:
Mengapa Rasulullah Disebut
Uswatun Hasanah?
Siswa diajak memahami
makna Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, yaitu teladan terbaik.
Keteladanan Rasulullah bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kejujuran,
kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, keberanian, dan cara beliau
memperlakukan orang lain.
Dengan demikian,
mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan bershalawat, tetapi juga berusaha
meniru akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Ajaran Rasulullah
Begitu Membekas di Hati Umat?
Rasulullah SAW tidak
hanya menyampaikan ajaran melalui kata-kata. Beliau menunjukkan langsung
bagaimana ajaran tersebut dijalankan.
Kejujuran beliau menjadi
contoh. Kesabaran beliau menjadi contoh. Kasih sayang beliau menjadi contoh. Karena
itu, dakwah Rasulullah memiliki kekuatan yang besar karena umat dapat melihat
dan merasakan langsung keteladanan tersebut.
Mengapa Dakwah Rasulullah
Lebih Menekankan Keteladanan?
Para siswa diajak
melihat bahwa manusia sering kali lebih mudah belajar dari apa yang dilihat
daripada sekadar apa yang didengar. Seorang guru yang mengajarkan kejujuran
akan lebih mudah diteladani ketika ia sendiri bersikap jujur. Orang tua yang
mengajarkan kesabaran akan lebih bermakna ketika anak melihat kesabaran itu
dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu pula Rasulullah
SAW. Beliau menghidupkan ajaran Islam melalui perilaku, sehingga dakwah tidak
hanya menjadi teori, tetapi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dicontoh.
Ketika
Generasi Muda Mulai Jauh dari Keteladanan Rasulullah
Pertanyaan berikutnya
menjadi bahan refleksi bersama: mengapa di akhir zaman umat Islam semakin jauh
dari ajaran Rasulullah SAW?
Di tengah perkembangan
teknologi dan derasnya informasi, anak-anak dapat melihat berbagai macam gaya
hidup dan perilaku dari berbagai penjuru dunia. Tidak semuanya sesuai dengan
nilai-nilai Islam.
Karena itu, tantangan
generasi saat ini bukan hanya bagaimana mengenal Rasulullah, tetapi bagaimana
menjadikan Rasulullah sebagai rujukan akhlak di tengah perubahan zaman.
Anak-anak perlu dibekali
kemampuan untuk memilih: mana yang baik untuk diikuti dan mana yang harus
ditinggalkan.
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan
Peringatan Maulid Nabi
di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah
SAW harus diwujudkan dalam tindakan.
Ketika siswa berkata
jujur, mereka sedang belajar meneladani Rasulullah.
Ketika mereka
menghormati guru dan orang tua, mereka sedang belajar akhlak Rasulullah.
Ketika mereka menyayangi
teman dan tidak menyakiti orang lain, mereka sedang menghadirkan kasih sayang
yang diajarkan Rasulullah.
Dan ketika mereka
bersungguh-sungguh belajar, menjaga ibadah, serta berusaha menjadi pribadi yang
lebih baik, mereka sedang menapaki jalan keteladanan Rasulullah SAW.
Maulid Nabi bukan hanya
tentang mengingat kelahiran Rasulullah, tetapi tentang menghadirkan kembali
akhlaknya dalam kehidupan kita.
Semoga melalui kegiatan
ini, para siswa MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo semakin mengenal, mencintai,
dan meneladani Rasulullah Muhammad SAW.
Mengenal beliau dengan
ilmu, mencintai beliau dengan hati, dan meneladani beliau dengan perbuatan

