Melatih Kemampuan Presentasi Sejak Dini di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo
Berani berbicara
bukanlah kemampuan yang tiba-tiba muncul ketika seorang anak sudah besar.
Keberanian menyampaikan gagasan perlu dibangun melalui pengalaman yang
berulang, bertahap, dan berada dalam suasana belajar yang aman. Karena itu,
latihan presentasi sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam membangun
keterampilan komunikasi sekaligus kepercayaan diri peserta didik.
Bagi sebagian anak,
berdiri di depan kelas untuk berbicara dapat menjadi pengalaman yang
menegangkan. Takut salah, malu diperhatikan teman, atau khawatir tidak mampu
menjawab pertanyaan merupakan hal yang dapat terjadi. Karena itu, sekolah tidak
seharusnya menunggu anak “siap” untuk berbicara. Kesempatan berbicara justru
perlu diberikan agar kesiapan itu tumbuh melalui pengalaman.
Penelitian tentang
pembelajaran komunikasi pada jenjang pendidikan dasar menegaskan bahwa
keterampilan komunikasi memiliki kaitan dengan perkembangan pribadi,
keberhasilan akademik, dan kesejahteraan siswa. Kajian sistematis terhadap 20
penelitian juga menekankan pentingnya faktor pendidikan dan lingkungan dalam
pengembangan keterampilan komunikasi anak. (ve.scielo.org)
Ketika seorang siswa
melakukan presentasi, sebenarnya banyak proses pembelajaran berlangsung secara
bersamaan. Siswa perlu memahami materi, memilih informasi yang penting,
menyusun urutan gagasan, menentukan cara menjelaskan, menggunakan bahasa yang
tepat, serta menanggapi pertanyaan dari pendengar. Dengan demikian, presentasi
bukan sekadar latihan berbicara dengan suara keras. Presentasi merupakan
latihan untuk mengubah pengetahuan menjadi gagasan yang dapat dipahami orang
lain.
Kajian penelitian
mengenai kompetensi presentasi menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan
presentasi akan lebih efektif ketika siswa memperoleh tujuan yang jelas, tugas
yang sesuai, contoh atau pemodelan, kesempatan berlatih, umpan balik, serta
ruang untuk melakukan penilaian diri dan penilaian teman sebaya.
Anak yang hari ini hanya
mampu berbicara dua atau tiga kalimat tidak perlu dibandingkan dengan anak yang
sudah mampu berbicara panjang.
Yang lebih penting
adalah pertumbuhan dari dirinya sendiri.
Hari ini berani
memperkenalkan diri.
Besok berani
menceritakan pengalaman.
Kemudian berani
menjelaskan hasil tugas.
Berikutnya berani
menyampaikan pendapat.
Dan pada tahap
selanjutnya, berani menjawab pertanyaan serta berdiskusi.
Kemampuan komunikasi
akan terus dibutuhkan ketika anak tumbuh. Di masa depan, mereka akan berhadapan
dengan situasi yang membutuhkan kemampuan menyampaikan pendapat, berdiskusi,
bekerja dalam kelompok, menjelaskan gagasan, dan berbicara kepada orang lain. Karena
itu, latihan presentasi di sekolah dasar bukan sekadar kegiatan tambahan. Ia
merupakan investasi keterampilan untuk kehidupan. Anak belajar berdiri dengan
percaya diri. Anak belajar menyusun pikiran. Anak belajar berbicara dengan
santun. Anak belajar menghadapi pertanyaan. Anak belajar menerima masukan. Dan
yang paling penting, anak belajar bahwa gagasannya layak untuk didengar.
Melalui pembelajaran
yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk aktif berbicara, berdiskusi,
menjelaskan hasil belajar, dan menyampaikan gagasan, MIS Muslimat NU Pucang
Sidoarjo terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi
pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan dan
karakter. Presentasi menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk menghubungkan ilmu
dengan komunikasi, pengetahuan dengan keberanian, dan pembelajaran dengan
kehidupan nyata. Sebab, anak yang berani berbicara bukan berarti anak yang
tidak pernah merasa takut. Anak yang berani adalah anak yang belajar tetap
mencoba meskipun masih merasa gugup. Dan keberanian itu dapat dimulai dari
sesuatu yang sederhana
