HARDIKNAS 2025: PENDIDIKAN BERBASIS CINTA UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI RAMAH, TOLERAN, DAN CINTA TANAH AIR

Mei 03, 2025

Oleh : Dr. M. Hamim Thohari, S.Pd.,MM

Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan Kurikulum CINTA sebagai upaya strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kepedulian terhadap sesama. Kurikulum ini merupakan sebuah pendekatan yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan sejak dini melalui jalur pendidikan agama dan keagamaan.

Penerapan Kurikulum CINTA bertujuan membentuk peserta didik yang mencintai Tuhan (hablum minallah), mencintai sesama manusia (hablum minannas), mencintai dan menjaga lingkungan (hablum minal bi’ah), serta mencintai tanah air (hubbul wathan). Keempat pilar ini dimasukkan secara integratif ke dalam berbagai mata pelajaran yang ada, tidak berdiri sendiri sebagai pelajaran baru. Dengan demikian, pembelajaran di sekolah tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang utuh.

Kurikulum ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan saat ini, seperti meningkatnya sikap intoleran di kalangan pelajar, lemahnya kepedulian terhadap lingkungan, hingga lunturnya rasa cinta tanah air. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan melalui Kurikulum CINTA menekankan pentingnya nilai kasih sayang, persaudaraan, dan kebersamaan dalam bingkai keberagaman.

Pentingnya pendidikan yang menanamkan nilai cinta sejati telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Dalam surah Ali Imran ayat 159, Allah SWT berfirman:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu..."

(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menekankan bahwa kelembutan, kasih sayang, dan cinta adalah dasar penting dalam membina hubungan sosial, termasuk dalam dunia pendidikan. Kurikulum CINTA hadir untuk membentuk peserta didik yang mampu menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat luas.

Di tingkat MI, implementasi Kurikulum CINTA dilaksanakan melalui pembiasaan positif, keteladanan guru, serta pembelajaran tematik yang menyisipkan pesan moral dan spiritual. Anak-anak diajak untuk mencintai Allah melalui ibadah yang ikhlas, mencintai sesama dengan saling menghormati dan menolong, mencintai lingkungan dengan menjaga kebersihan dan kelestarian alam, serta mencintai tanah air dengan bangga akan budaya dan identitas bangsanya.

Kementerian Agama juga menyiapkan panduan dan pendampingan bagi guru agar implementasi kurikulum ini dapat berjalan efektif. Evaluasi keberhasilannya tidak hanya dilihat dari prestasi akademik, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku siswa yang lebih santun, peduli, dan bertanggung jawab.

Dengan diterapkannya Kurikulum CINTA, diharapkan sekolah-sekolah Islam dapat menjadi pusat lahirnya generasi penerus yang Islami, ramah, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Generasi yang siap membawa perubahan positif di tengah masyarakat dan menjadi pelita di zaman yang penuh tantangan.

Untuk seluruh siswa – siswi di manapun kalian berada, yakinlah bahwa ilmu yang kalian pelajari hari ini akan menjadi cahaya yang menerangi masa depan. Teruslah belajar dengan hati yang ikhlas, cintai Allah, Rasulullah, orang tuamu, gurumu, sayangi temanmu, jaga lingkunganmu, dan banggalah menjadi anak Indonesia. Kalian adalah generasi yang akan membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.