Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo
Okt 06, 2025
Untuk kelas besar, yaitu kelas 4–6, acara dimulai dengan lantunan sholawat yang dipimpin oleh Mr. Abdul Ghafur, M.Pd.I. Suara syahdu sholawat yang bergema membuat hati seluruh hadirin larut dalam kerinduan kepada Rasulullah. Setelah itu, seluruh peserta dengan khidmat mengikuti dzikir dan doa yang dipimpin oleh Kepala Madrasah, Mr. Dr. M. Hamim Thohari, S.Pd., MM, memohon keberkahan serta rahmat Allah SWT.
Sedangkan untuk kelas kecil, yaitu kelas 1–3, acara diawali dengan sholawat, dzikir, dan doa yang dipimpin oleh Mr. Syarif Hidayatullah, S.Pd.
Dua Lokasi, Satu Semangat Cinta Rasulullah
Untuk memberikan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat usia siswa, kegiatan tausyiah dibagi menjadi dua lokasi:
• Kelas besar (4–6) bertempat di masjid, dengan tausyiah penuh hikmah dari Mrs. Solichati, S.Pd.I., M.Pd. dan Mr. Mochammad Chafid, S.Kom.
• Kelas kecil (1–3) berkumpul di hall madrasah, bersama Mrs. Lilah Khiqmawati, S.Sos.I., M.Pd.I. dan Mr. M. Isya’uddin, M.Pd.I., yang menyampaikan tausyiah dengan bahasa sederhana dan penuh cerita.
Tausyiah utama mengangkat tema: “Mengapa Kita Harus Bershalawat?”
Keagungan Rasulullah SAW Sejak Penciptaan
Sejak awal mula penciptaan, ketika alam semesta masih sunyi dan manusia belum dihadirkan, Allah SWT telah mengagungkan satu nama yang kelak menjadi cahaya bagi seluruh makhluk: Muhammad.
Dikisahkan, saat Nabi Adam a.s. berada di surga, beliau melihat kalimat agung terpahat indah: “L? il?ha illall?h Muhammadur Ras?lull?h.” Dengan penuh takjub beliau bertanya, “Siapakah Muhammad, yang namanya Engkau sejajarkan dengan nama-Mu, ya Allah?” Maka terungkaplah bahwa Muhammad adalah kekasih Allah, insan mulia yang kelak menjadi penutup para nabi dan rahmat bagi semesta alam.
Karena itu, mencintai Allah tidak akan pernah sempurna tanpa mencintai Rasul-Nya. Dan cinta itu menemukan wujudnya dalam lisan yang senantiasa bershalawat, hati yang selalu merindu, serta amal yang meneladani akhlak beliau.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Teladan Kehidupan Rasulullah SAW
Sejak kecil, Rasulullah SAW telah merasakan pahitnya hidup sebagai seorang yatim piatu. Tanpa kasih sayang seorang ayah, bahkan kemudian ditinggal oleh ibunda tercinta, beliau tumbuh dengan hati yang tegar dan jiwa yang sabar. Namun di balik kesepian itu, Allah senantiasa menjaganya dengan limpahan kasih dan cahaya.
Ketika beranjak remaja, beliau membantu keluarga dengan bekerja menggembala kambing, lalu berdagang dengan penuh kejujuran. Tidak sekalipun beliau menipu atau mengurangi timbangan. Justru karena amanah dan kejujurannya, orang-orang menjulukinya Al-Amin—yang dapat dipercaya.
Dari perjalanan hidup itu, anak-anak belajar satu hal yang sangat berharga: keberhasilan tidak datang begitu saja. Rasulullah menunjukkan bahwa kesungguhan, kerja keras, dan kedekatan kepada Allah adalah kunci sejati menuju kemuliaan.
Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam
Tausyiah juga menyinggung pentingnya ilmu pengetahuan. Narasumber menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari kemalasan, melainkan dari kesungguhan belajar. Hari ini kita melihat bagaimana bangsa Tiongkok dan Jepang mampu menguasai teknologi dunia—dari kereta supercepat yang melaju bagaikan kilat, kapal raksasa yang menjelajahi samudera, hingga satelit yang mengorbit di luar angkasa. Semua itu berawal dari kerja keras mereka menuntut ilmu.
Padahal, Al-Qur’an sejak ribuan tahun lalu telah memberi isyarat tentang pengetahuan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya’ ayat 30:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya...”
Ayat ini menjadi inspirasi bagi penelitian astronomi hingga lahirlah teknologi antariksa.
Dalam Q.S. Yasin ayat 41–42, Allah mengingatkan tentang bahtera yang membawa manusia berlayar. Dari sanalah manusia kemudian menciptakan alat transportasi, mulai dari kapal modern hingga kereta cepat.
Begitu pula Q.S. An-Nur ayat 35 yang menyinggung cahaya, kini menjadi dasar lahirnya teknologi listrik, lampu, hingga laser.
Pesan itu ditegaskan kembali dengan firman Allah dalam Q.S. Al-‘Alaq ayat 1–5, yang memerintahkan manusia untuk membaca, belajar, dan meneliti. Inilah modal utama agar umat Islam mampu menggali ilmu dari Al-Qur’an dan melahirkan karya nyata.
Narasumber berpesan: “Anak-anak, jangan terlalu lama bermain gadget. Waktumu lebih berharga untuk tadarus, belajar, dan mengembangkan diri. Ingat, perkembangan ilmu terjadi setiap detik. Umat Islam tidak boleh malas, tetapi harus terus produktif.”
Allah juga mengingatkan dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 7:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
Penutup: Cinta Nabi, Cinta Ilmu
Dengan penuh harapan, seluruh siswa dan guru bersama-sama menutup acara dengan doa dan sholawat. Semoga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini benar-benar menumbuhkan kecintaan yang tulus kepada Rasulullah, sekaligus menjadi langkah nyata untuk mencetak generasi Islami yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi