Peringatan Isra' Mi'raj di MIS Muslimat NU Pucang Sidoarjo
Jan 15, 2026
MENGAPA KITA HARUS SHALAT?
Kita dihidupkan Allah di alam dunia ini hanya untuk ibadah.
Dari 24 jam waktu yang tersedia, kadang habis untuk memikirkan dunia. Semakin dunia kita pikirkan, semakin kita terlena dibuatnya, sehingga kita dijadikan bulan-bulanan oleh dunia dan lupa pada tujuan hidup. Ingat, tujuan kita hidup itu untuk beribadah.
Semakin kita disibukkan oleh urusan dunia, semakin kita lupa akan Allah.
Saking sayangnya Allah kepada kita, maka kita diperintah Allah untuk shalat. Mengapa? Karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Ketika seseorang melaksanakan shalat, maka tujuan hidup setiap insan akan terwujud.
Dalam Surah Al-Baqarah, Allah berfirman yang artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong hidupmu.”
Jadi, hidup kita bisa tertolong oleh kesabaran dan shalat. Mengapa Allah menekankan sabar terlebih dahulu baru shalat? Karena untuk bisa menegakkan shalat, kuncinya adalah sabar.
Sabar dalam memahami makna shalat, sabar dalam menerapkan syarat dan rukun shalat, sabar dalam bersuci, terutama sabar dalam memantik kehadiran Allah di jantung hati ketika shalat, barulah shalat itu bisa tegak.
Jadi, itulah pentingnya shalat sebagai pengendali kehidupan setiap insan, sebagai penyeimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani. Jasmani kita cukupi dengan mengejar rezeki yang halalan thayyiban, dan rohani kita isi dengan ibadah, terutama shalat.
BAGAIMANA RASULULLAH MENDAPAT PERINTAH SHALAT?
Sebelum Rasulullah menerima perintah shalat, beliau bersama para sahabat membentuk alkah-alkah dzikrullah. Dalam majelis tersebut, para sahabat dimantapkan tauhidnya oleh Rasulullah : bagaimana mengimplementasikan syahadat, bagaimana bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Bersaksi berarti melihat, mendengar, dan merasakan, dan semua itu harus dilatih dengan kesabaran. Melalui alkah-alkah dzikrullah, jantung hati dilatih untuk terus berdzikir. Ketika jantung hati telah terbiasa berdzikir, maka kesadaran untuk mengingat Allah dan Rasulullah akan tumbuh dan berkembang.
Penyakit-penyakit hati mulai terkikis dan hati terisi dengan nama Allah. Dengan berdzikir, hati menjadi tenang. Jika hati tenang, maka hidup pun menjadi tenang.
Akidah para sahabat digembleng oleh Rasulullah . Setelah akidah mereka mantap, barulah Rasulullah di-Isra’ Mi’raj-kan. Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, kalbu Rasulullah disucikan terlebih dahulu oleh Malaikat Jibril. Ini menjadi pelajaran penting bagi umat beliau: Rasulullah yang ma‘shum dan terjaga dari dosa saja masih disucikan hatinya sebelum menghadap Allah.
Allah Maha Suci. Untuk bisa mendekat kepada Yang Maha Suci, kita pun harus suci. Inilah hal yang sering kita lupakan dan jarang kita renungkan.
Tantangan terbesar ketika hendak shalat adalah godaan setan: bisikan di telinga agar kita tidak mendengar perintah Allah, agar kita lalai dari panggilan adzan; melalui mata agar silau oleh kesibukan dunia; dan melalui pikiran agar terbuai oleh godaan setan. Setan memiliki misi menjerumuskan manusia ke dalam murka Allah. Karena itu, penting bagi kita untuk membentengi diri, sebab setan dapat masuk melalui aliran darah manusia.
Jika Rasulullah yang terjaga dari dosa saja disucikan kalbunya sebelum menghadap Allah, maka kita sebagai hamba yang lemah tentu harus lebih bersungguh-sungguh dalam mensucikan hati.
Rasulullah melakukan Mi‘raj dan menerima perintah shalat lima waktu sehari semalam. Ini menegaskan bahwa dalam sehari, seorang mukmin pun harus “ber-mi‘raj” lima kali melalui shalat. Ash-shal?tu mi‘r?jul mu’min?n — shalat adalah mi‘rajnya orang-orang beriman.
Dari peristiwa Isra’ Mi‘raj tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Rasulullah menyebarkan Islam dengan pendekatan kalbu, menguatkan tauhid para sahabat dengan mengesakan Allah melalui penyebutan Asma Allah.
2. Rasulullah secara kontinu berdzikir bersama para sahabat dalam alkah-alkah dzikrullah.
3. Rasulullah mengajarkan cara membentengi diri dari godaan setan agar para sahabat mampu menghadirkan Allah di jantung hati ketika Asma Allah disebut.
Ingat: dengan berdzikir, hati menjadi tenang.
4. Rasulullah di-Isra’ Mi‘raj-kan setelah kalbunya disucikan, karena akan menghadap Yang Maha Suci.
5. Turunlah perintah shalat lima waktu sebagai ibadah yang sangat penting.
6. Menegakkan shalat berarti membersihkan dan mensucikan hati dengan dzikrullah: dzikir lisan, dzikir nafas, dan dzikir hati.
7. Shalat berisi dzikir dan doa. Karena itu, usahakan menghadirkan Allah saat shalat. Jika Allah hadir dalam shalat kita, maka doa-doa akan diijabah.
8. Jangan dibalik: shalat dilakukan sekadarnya, sementara doa diminta khusyuk. Jika demikian, tujuan shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar serta sebagai mi‘raj kaum mukmin tidak akan tercapai.
9. Ingat firman Allah: “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.” Bersabarlah dalam berdzikir, salurkan dzikir ke seluruh anggota tubuh, dan bersucilah dengan optimal.
10. Duduklah dengan tertib, membaca pujian, dan fokuskan niat bahwa kita akan menghadap Allah. Singkirkan penyakit hati dan pikiran yang merusak konsentrasi, serta posisikan diri seolah-olah kita melihat Allah atau dilihat oleh-Nya.
BAGAIMANA CARA MENEGAKKAN SHALAT
Shalat itu bukan hanya dikerjakan, tetapi harus ditegakkan.
Jika ketika membaca bacaan shalat pikiran melayang ke mana-mana, hati berselancar ke sana kemari, dan telinga masih terganggu oleh apa yang didengar sehingga konsentrasi buyar, maka shalat seperti itu belum tegak.
Mengapa demikian? Ibarat sebuah konstruksi bangunan, jika arahnya tidak presisi, maka bangunan tersebut akan mudah runtuh. Begitu pula shalat, jika tidak dibangun dengan arah yang benar, maka shalat itu tidak tegak.
Karena itu, tancapkan dzikir dalam hati dan latihlah secara kontinu. Jika jasad membutuhkan nutrisi setiap hari, maka ruh pun membutuhkan nutrisi setiap hari. Nutrisi ruhani adalah dzikir. Sentra ruh adalah hati, maka hati membutuhkan siraman dzikir yang terus-menerus.
Biasakan dzikir bil-qalbi (dzikir dengan hati). Ketika hati terbiasa berdzikir, maka saat shalat hati telah terkontrol. Akibatnya, shalat akan benar-benar menghadirkan Allah sesuai dengan tujuan shalat itu sendiri.
Ketika hati mengingat Allah, maka ia akan terkoneksi dengan otak, sehingga pikiran dapat dikendalikan. Dengan demikian, saat kita berdiri dalam takbiratul ihram, hati dan otak sama-sama tegak mengingat Allah. Inilah kondisi yang harus terus kita usahakan secara berkesinambungan.
Ingat, anakku:
Barang siapa shalatnya baik, maka seluruh amalannya di dunia akan bernilai baik.
Mari tegakkan shalat, dengan terus meng-upgrade kualitasnya dari waktu ke waktu.